Ngaji Lubabul Hadits dan Ngaji Acara Tingkepan

Advertise

Senin, 13 Agustus 2012

PTK PENELITIAN TINDAKAN KELAS IPA FISIKA LISTRIK STATIS 9 SMP TUTORIAL SEBAYA



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Sejalan dengan makin pesatnya perkembangan  zaman dan  semakin deras-nya arus globalisasi, dunia pendidikan di Indonesia dituntut untuk mampu menye-suaikan diri sehingga menghasilkan generasi yang cerdas, tangguh dan beradapta-si tanpa harus kehilangan karakter dan jati diri. Oleh  karena itu sistem pendidikan harus bersifat dinamis ditinjau  dari sisi kurikulum, materi,  metode  pembelajaran, hingga  sumber  daya manusianya, yaitu tenaga pendidiknya harus mampu menye-suaikan diri dengan kondisi aktual saat ini.
            Mengingat begitu pentingnya  peran guru  dalam  memberdayakan masya-rakat, maka  dalam proses pembelajaran guru harus benar-benar  bisa menciptakan  kondisi  belajar yang dapat  membangkitkan minat dan kesadaran dari siswa akan pentingnya proses belajar itu sendiri untuk bekal kehidupannya di masa kemudian. Dengan adanya minat belajar itu tentu saja akan tercipta  suasana belajar yang me-nyenangkan dan tidak  membosankan.  Dalam  hal ini diperlukan suatu komitmen moral,  teknik  pembelajaran,  dan terobosan-terobosan  tertentu agar penampilan  guru di depan kelas selalu  menghadirkan  sesuatu yang ditunggu oleh siswa. 
            Di antara  terobosan itu  antara lain  dengan menerapkan  teknik  pembela-jaran yang sesuai. Sesuai dalam hal ini  dapat berarti cocok  dengan kondisi siswa  sehingga teknik  pembelajaran  ini menjadi sesuatu yang baru yang dapat mening-katkan motivasi belajar siswa.  Sesuai dapat pula berarti  bahwa teknik pembelaja-ran ini merupakan solusi  atas suatu permasalahan yang ada dalam  proses pembe-lajaran itu.  Sesuai juga dapat diartikan bahwa teknik pembelajaran ini relevan de-ngan materi  yang disajikan dalam  proses pembelajaran tersebut  sehingga teknik  pembelajaran itu akan  menjadi daya dukung yang kuat untuk keberhasilan penca-paian tujuan proses pembelajaran.
            Untuk  dapat menentukan  teknik  pembelajaran yang  sesuai itu tentu saja terlebih dahulu  harus dilakukan  observasi  terhadap peserta didik. Dari observasi itu akan didapatkan permasalahan penting dan utama yang dapat digunakan seba-gai modal untuk menentukan pemecahan masalah itu.
            SMP Negeri 1 Mojoagung,  yang menjadi obyek dari penelitian ini  mempu-nyai kondisi yang cukup unik. Dalam pandangan masyarakat sekolah ini dinilai sebagai sekolah favorit. Masyarakat luas menilai bahwa kelulusan 100% dengan rentangan  nilai UAN yang cukup tinggi merupakan jaminan dari kualitas pembe-lajaran di SMP Negeri 1 Mojoagung ini. Penilaian yang sebenarnya tak sepenuhnya benar ini berakibat pada persaingan yang ketat pada saat proses penerimaan siswa baru. Dan hasilnya tentu saja hanya siswa yang nilainya tinggilah yang dapat ma-suk ke sekolah ini. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa siswa-siswa SMP Negeri 1 Mojoagung adalah siswa yang mempunyai prestasi tinggi.
             Posisi bangunan yang bertingkat dimana laboratorium berada di lantai satu dan kelas IX berada di lantai dua semakin menyulitkan kegiatan praktikum yang memerlukan banyak alat dan bahan sehingga kegiatan eksperimen, demonstrasi , dan diskusi jarang dilakukan. Hal ini menyebabkan kebanyakan siswa kelas IX adalah siswa yang pasif dalam belajar.
            Imbas dari pasifnya siswa dalam belajar ini adalah kurangnya kemampu-an  dan  keberanian siswa  dalam  mengajukan pendapat. Menurut guru pengampu mata pelajaran fisika SMP Negeri 1 Mojoagung menyatakan bahwa jika siswa kelas IX-B di-minta untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan, maka hanya siswa tertentu yang mampu melakukannya. Jumlah siswa yang berani berpendapat itupun hanya sekitar 8 dari 40 siswa (20%).
            Dari observasi kelas ditemukan kenyataan pula bahwa sebagian besar siswa kelas IX-B mempunyai sifat individual yang cukup tinggi. Hal ini karena rata-rata siswa SMP Negeri 1 Mojoagung berasal dari kalangan menengah ke atas di mana fa-silitas-fasilitas yang dimiliki didalam rumahnya sebagian besar sudah tercukupi, sehingga sifatnya kemudian lebih cenderung menjadi kurang mengacuhkan orang lain (individualis). Sifat individualis ini tentu saja akan menghambat interaksi an-tara siswa satu dengan siswa yang lainnya yang sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini tentu diperlukan suatu cara khusus yang berupa optimalisasi diskusi di dalam kelas melalui cara-cara tertentu yang dapat mendukung jalannya diskusi itu.
            Kenyataan ini tentu saja merupakan masalah yang harus segera dicarikan pemecahannya. Hal ini karena keberanian  berpendapat  merupakan modal yang penting  bagi seorang siswa untuk bisa lebih memahami suatu konsep. Untuk  bisa  mengajukan  pendapat,  baik berupa jawaban suatu  pertanyaan, memecahkan sua-tu permasalahan, dan untuk mengajukan pertanyaan diperlukan kemampuan kogni tif tertentu sehingga pendapat itu dapat diajukan dengan bahasa  yang urut dan sis-tematis.  Sebaliknya, tanpa adanya kemampuan dan keberanian berpendapat maka konsep yang telah dikuasai siswa akan menjadi mudah hilang dalam ingatan aki-bat kurang terlatihnya kemampuan kognitif itu.
            Retno Kundrati (2007:259) menyatakan bahwa pemahaman pada mata pe-lajaran sejarah akan lebih baik jika siswa suka membaca, selanjutnya menuangkan apa yang dibacanya kedalam tulisan, dan kemudian menyampaikannya dengan u-capan di depan temannya di kelas.
            Materi listrik statis yang harus diterima oleh kelas IX pada awal semester ganjil merupakan materi yang bersifat khayal dan imajinatif yang bisa diiden-tikkan dengan pelajaran sejarah tersebut. Dalam materi listrik statis terdapat pe-ngetahuan tentang sejarah ditemukannya istilah atom dan perkembangannya, model atom yang bersifat abstrak, dan konsep tentang partikel atom yang tak kasat mata.
 Penanaman konsep semacam ini haruslah hati-hati dan diperlukan cara tertentu agar konsep tersebut bisa bertahan lama dalam ingatan siswa. Kepada sis-wa harus diberikan pengalaman atau tindakan ( treatmen ) tertentu sehingga akan terjadi penguatan atau reinforsemen dalam struktur otaknya. Dengan memotivasi siswa untuk menyampaikan pendapat, maka siswa dikondisikan untuk belajar pa-da tataran yang lebih tinggi dari sekedar menghafal. Seperti dinyatakan pula oleh Retno Kundrati (2007:260) menyatakan bahwa pembelajaran akan menjadi sema-kin bermakna bagi siswa jika berada pada tingkatan taksonomi Bloom yang sema-kin tinggi. Salah satu cara untuk membuat belajar lebih bermakna itu adalah de-ngan teknik diskusi kelompok pola tutorial sebaya. Dengan menyodorkan bebe-rapa permasalahan dan pertanyaan kemudian mengharuskan kepada siswa untuk mempresentasikannya, maka siswa akan merasa tertantang dan melakukan proses berfikir yang lebih tinggi.
Mukhammad Kholiq (2007) melalui penelitian terhadap siswanya pada mata pelajaran Teknologi dan Informasi (TIK) yang berbasis komputer menemu-kan bahwa pengaturan siswa untuk memahami konsep, pemecahan masalah, dan mengeksplorasi produk pemanfaatan fasilitas software dapat dilakukan dengan ca-ra meminta bantuan teman sebaya. Bahkan, siswa akan memantapkan kemampuan terhadap konsep yang telah dimiliki apabila dikomunikasikan kepada teman seba-ya ( Nur dalam M. Kholiq, 2007:230).
Pembelajaran dengan teknik diskusi merupakan cara yang cukup jitu untuk membangun komunikasi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan anta-ra guru dengan siswa. Dengan komunikasi ini siswa dituntut untuk berbagi penge-tahuan dengan orang lain sehingga tentu saja sifat individualis harus ditanggalkan. Disamping itu dengan bekerja secara berkelompok maka keberanian siswa akan meningkat karena apa yang telah didapatkan siswa merupakan sesuatu yang dida-patkan secara bersama sehingga nilai kebenarannya menjadi lebih tinggi yang ber-dampak pada kepercayaan diri untuk berpendapat.
            Dari semua permasalahan ini, maka dapat dilakukan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Pembelajaran dengan Teknik Diskusi Kelompok Tutorial Sebaya untuk Meningkatkan Keberanian Berpendapat Siswa Kelas IX-B SMP Negeri 1 Mojoagung”.
           


B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang  di atas, maka  rumusan masalah  dalam  pene-litian ini adalah “Apakah pembelajaran dengan tehnik diskusi Kelompok Tutorial Sebaya dapat meningkatkan keberanian berpendapat siswa kelas IX-B SMP Nege-ri 1 Mojoagung ?”.

C. Tujuan
            Berdasarkan masalah yang dirumuskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keberanian  siswa untuk berpendapat.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru
    Hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif teknik pembelajaran untuk mening
    katkan efektifitas dan keberhasilan dari suatu diskusi.
2. Bagi peneliti lain
    Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian 
    sejenis atau penelitian lain yang relevan.
3. Bagi siswa
    Penelitian ini dapat menjadikan suasana belajar lebih segar karena merupakan   
    sesuatu yang baru. Di samping itu dapat juga digunakan sebagai sarana latihan 
    agar diskusi menjadi lebih hidup dan keberanian berpendapat menjadi mening-
    kat yang  berdampak pada peningkatan pemahaman konsep fisika.

E. Batasan masalah
1. Permasalahan dibatasi pada materi listrik statis
2. Penelitian ini hanya difokuskan pada keberanian siswa dalam mengajukan pen-
    dapat dan pertanyaan, bukan untuk mengukur peningkatan prestasi siswa.
3. Obyek penelitian ini dibatasi  hanya pada siswa kelas IX-B  SMP Negeri 1  Mojoagung tahun pelajaran 2010-2011.

F. Definisi Operasional
            Untuk menghindari  adanya  kesalahan dalam menginterpretasikan  istilah-istilah dalam penelitian ini, maka diberikan definisi-definisi sebagai berikut :
  1. Pembelajaran adalah  suatu kondisi kelas yang dirancang dengan teknik ter tentu agar terjadi proses belajar.
  2. Teknik diskusi adalah teknik belajar mengajar yang melibatkan dua indi-vidu atau lebih dalam bertukar pendapat,  pengalaman, informasi, atau dalam pemecahan masalah.
  3. Kelompok  tutorial sebaya merupakan  cara pengelompokan siswa  dimana  terdapat seorang  siswa yang memiliki  pemahaman  konsep  lebih tinggi yang menjadi tutor temannya yang memiliki tingkatan pemahaman lebih rendah. 
  4. Keberanian  berpendapat merupakan keberanian siswa untuk mengajukan usulan, pertanyaan, penjelasan, maupun  solusi dari suatu permasalahan yang berkaitan dengan materi pembelajaran


1 komentar

Pujo Cahyono 22 Januari 2014 20.44

Permisi
Bagus infonya, jangan lupa kunjungi juga di http://pcahyono.blogspot.com/

Poskan Komentar