Advertise

Jumat, 24 Agustus 2012

PTK PAI Nun tanwin


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Bdakang Masalah
Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui pelaksanaan pendidikan yang baik.  Pelaksanaan pendidikan yang baik meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu pendidikan harus adaptifterhadap perubahan zaman.
Pembelajaran yang diterapkan di SMP sekarang sering kurang memotivasi belajar siswa, bahkan sering mematikan kreatifitas siswa dengan buku paket yang kurang variatif dan metode ceramah yang tidak menunjang, hingga siswa merasa jenuh dan tidak bisa memahami isi pelajaran.
Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMP ialah dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tujuan (kompetensi), materi, dan karakteristik siswa dan dapat memberikan motivasi, belajar bagi siswa, hingga berdampak positif pada prestasi belajar siswa.
Banyak guru masih berpendapat bahwa dialah penguasa tunggal dalam kelas, sehingga semua perintah, perbuatan, tindakan harus dipatuhi dan diikuti oleh siswa. Dengan kata lain guru berpegang teguh pada pendiriannya bila dia adalah satu-satunya sumber belajar yang digunakan oleh siswa (Depdiknas, 2002:1).
Dalam konteks pembaruan pendidikan yang perlu disoroti yaitu peningkatan kualitas pembelajaran. Indikator pembelajaran yang berkualitas jika aktifitas belajar menyenangkan dan menggairahkan. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.
Pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi orientasi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek. Tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Itulah yang terjadi di SMP saat ini.
Anak dikondisikan mengenal dan mengetahui, sehari-hari diisi dengan ceramah, sementara siswa dipaksa menerima dan menghafal. Siswa menjadi pasif dan tidak memiliki rasa keingintahuan yang besar terhadap pelajaran akhirnya menjadi apatis sehingga kelas menjadi tidak produktif akibatnya pemahaman belajarpun menjadi rendah.
Melalui landasan filosofi konstruktivisme. Contextual Teaching and Learning (CTL) dipromosikan menjadi altematif strategi belajar yang baru. Pembelajaran kontekstual (CTC) merupakan konsep belajar yang menuntut guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari (Nurhadi, 2002:5). Proses pembelaja- rannya berlangsung alamiah bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Beberapa alasan mengapa pembelajaran kontekstual sekarang ini dilaksanakan adalah sebagai berikut : (1) penerapan kontekstual budaya dalam mengembangkan silabus penyusunan pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan, (2) penerapan konteks sosial dalam mengembangkan silabus penyusunan buku pedoman dan buku teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat, (3) penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan ketrampilan komunikasi akan membantu siswa lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat, (4) penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan sosial, (5) penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman tentang berbagai isu yang dapat meningkatkan pemahaman tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat (Abdurrahman Bintoro, 2000:73).
Penerapan pembelajaran kontekstual bermula dari pandangan ahli pendidikan dari paham klasik progresivisme John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman siswa. Intinya siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah (Nurhadi, 2002:5).
Selain teori progresivisme, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru. sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa.
Berpijak dari dua pandangan inilah CTL sebagai alternatif strategi yang baru. Siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal (Zahorik, 1995). Pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalain membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Itulah yang terjadi di SMP Negeri 1 Kali Kab. Malang.
Atas dasar pandangan teoritis dan pengalaman permasalahan yang dihadapi dalam pengajaran diatas, peneliti sebagai guru kelas 1 merasa perlu melakukan penelitian tindakan untuk peningkatan pemahaman Konsep Hukum Bacaan Nun Mati dan Tanwin serta Mim Mati melalui Penerapan Pembelajaran Kontekstual Siswa Kelas 1 pada Siswa SMP Negeri 1 Kali Kab. Malang.

B.  Identifikasi Masalah
Beberapa masalah yang terjadi di kelas adalah sebagai berikut:
1.   Unsur Siswa (tanda motivasi berprestasi rendah)
-    Tidak memperhatikan penjelasan guru
-    Santai dalam belajar, penalaran siswa rendah
-    Tidak mau bertanya dan tidak antusias menjawab pertanyaan
-    Mengerjakan soal asal-asalan/ tidak bergairah, bahkan tidak mengerjakan tugas dan tidak mengumpulkan tugas
-     Rendahnya partisipasi siswa dalam KBM

2.   Unsur Guru
      Penggunaan metode ceramah tunggal/konvensional yang monoton terlalu sering




C.     Pembatasan dan Rumusan Masalah
a.   Pembatasan masalah
Mengingat luasnya lingkup permasalahan, maka dalam penelitian ini dibatasi pada:
1.      Penelitian dibatasi pada siswa kelas 1 di SMP Negeri 1 Kali Kabupaten Malang
2.      Penelitian difokuskan pada peningkatan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya prestasi siswa dalam pemahaman Konsep Hukum Bacaan Nun Mati dan Tanwin serta Mim Mati melalui Penerapan Pembelajaran Kontekstual
3.      Pembelajaran dengan Penerapan Pembelajaran Kontekstual
b.   Rumusan Masalah
Apakah penerapan Pembelajaran Kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pemahaman Konsep Hukum Bacaan Nun Mati dan Tanwin serta Mim Mati pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di kelas 1 siswa SMP Negeri 1 Kali?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah : Untuk mendeskripsikan peningkatan pemahaman Konsep Hukum Bacaan Nun Mati dan Tanwin serta Mim Mati pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di kelas 1 siswa SMP Negeri 1 Kali

E.  Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik diatas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
"Penerapan Pembelajaran Kontekstual dapat meningkatkan pemahaman Konsep Hukum Bacaan Nun Mati dan Tanwin serta Mim Mati pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di kelas 1  siswa SMP Negeri 1 Kali.
F.   Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tentang Peningkatan Pemahaman Konsep Hukum Bacaan Nun Mati dan Tanwin serta Mim Mati pada mata pelajaran pendidikan agama Islam melalui penerapan Pembelajaran Kontekstual diharapkan dapat dijadikan alternatif  bagi:
 1. Siswa sebagai bekal untuk :
a. Lebih aktif dan kreatif terlibat langsung dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dialaminya.
b.  Lebih termotivasi dalam belajar dan mengikuti pelajaran.
c.  Lebih memahami dalam kegiatan pembelajaran secara mandiri misamya dengan melakukan uji coba.
 2.  Guru sebagai bahan pertimbangan untuk :
a. Meningkatkan profesionalitas dalam menjalankan tugas mengajar dengan merangsang minat siswa serta melibatkan siswa secara utuh menyeluruh dalam pembelajaran.
b.   Menambah cakrawala mengenai pembelajaran mengatasi rendahnya penguasaan konsep.
c.  Dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam peningkatan pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
d.  Mengembangkan dan menggunakan metode pembelajaran yang lebih efektif dan efisien bagi penyampaian isi pembelajaran.
3.   Peneliti:
a.   Menambah wawasan peneliti tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran.
b.  Sebagai referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang lebih praktis dan komprehensif.

1 komentar

Halimi Ansor 22 Desember 2013 14.40

Terimakasih atas proposal ptk izinkan saya membacanya

Poskan Komentar