Advertise

Sabtu, 14 September 2013

Zuhrotul Rumanah,2010: Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Melalui Strategi Belajar di Luar Kelas dengan Pendekatan Kontekstual pada Peserta didik Kelas IIIB Semester Genap di SDN Mentoro Tahun Pelajaran 2009/2010

ABSTRAK

Zuhrotul Rumanah,2010: Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Melalui Strategi Belajar di Luar Kelas dengan Pendekatan Kontekstual pada Peserta didik  Kelas IIIB Semester Genap di SDN Mentoro Tahun Pelajaran 2009/2010. BINA. Dosen Pembimbing: Faizun, S.Pd.,M.Pd.

Deskripsi adalah gambaran verbal ihwal manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Cara penulisan ini menggambarkan sesuatu sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat seolah-olah merasakannya, melihat, mendengar, atau mengalami sebagaimana dipersepsi oleh pancaindera, maka deskripsi sangat mengandalkan pencitraan konkret dan rincian atau spesifikasi. Deskripsi lebih memberikan citra yang menarik mengenai objek itu dan berhubungan dengan pancaindera dan pencitraan, maka banyak tulisan deskripsi diklasifikasikan sebagai tulisan kreatif.
    Kajian yang akan dibahas dalam penelitian ini ialah, mengenai menulis deskripsi. Pembelajaran menulis deskripsi yang sekarang ini masih sangat konvensional, sehingga orientasi belajar masih berpusat pada guru dan bukan pada peserta didik. Peneliti berharap dengan adanya pembaharuan dan pengembangan strategi pembelajaran diharapkan dapat membantu peserta didik meningkatkan pencapaian hasil belajar Bahasa Indonesia sekaligus peserta didik lebih aktif dalam belajar.
Bertolak dari permasalahan yang ada, peneliti bekerja sama dengan guru Bahasa Indonesia SDN Mentoro  kelas IIIB merasa sangat perlu untuk mengadakan perbaikan terhadap strategi pembelajaran keterampilan menulis bagi peserta didik. Berkaitan dengan pendekatan pembelajaran guru, dalam hal ini, diterapkan pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dengan komponen pemodelan objek langsung di luar kelas pada peserta didik kelas IIIB SDN Mentoro Sumobito Jombang tahun pelajaran 2009/2010.
Berdasarkan kajian dalam penelitian ini maka dapat diketahui bahwa hasil rata-rata tes menulis karangan deskripsi pada prasiklus mencapai 36,58, artinya peserta didik masih berada pada katagori kurang Pada siklus I hasil keterampilan menulis karangan deskripsi pada  kelas IIIB SDN Mentoro Sumobito Jombang masih berada dalam kategori yang cukup yaitu dengan nilai rata-rata 58 dan belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal 60,00. Selain itu, perubahan tingkah laku dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi masih tergolong normal belum tampak  perubahan yang berarti. Setelah pelaksanaan siklus II keterampilan  kelas IIIB SDN Mentoro Sumobito Jombang dalam menulis karangan deskripsi sudah mencapai kategori baik yaitu, dengan rata-rata nilai secara klasikal mencapai 70,5 atau mencapai kategori baik. Metode kontekstual ternyata dapat meningkatkan keterampilan  dalam menulis karangan deskripsi, dan  peserta didik juga mengalami perubahan perilaku dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi.

Kata kunci: karangan deskripsi, Contextual Teaching and Learning.

ABSTRACT

Zuhrotul Rumanah, 2010: Improving writing skill of description text through learning strategic out of class by using contextual approach in the third student of SDN Mentoro in academic year 2009/2010. Bahasa Indonesia. Advisor: Faizun, S. Pd, M. Pd.
Description is verbal drawing of a human, object, performance, scenery or event. The way in writing this is draw something so that the readers as if can feel it, watch, hear, or have experience as like what perceived by five human senses, therefore the description depends on concrete imaging and specific. Description give more interesting imaging about that object and relates with human sense and imaging, so, there are many writings about description which is classified as creative writing.
The topic which will be discussed in this research is about description writing. Nowadays, studying about description writing is still conventional, so the study orientation still in teacher centeredness, not student centeredness. The researcher hopes, through there is reforming and improving learning strategic, it is hoped can help the student to increase the achievement of result study  of Bahasa Indonesia and also motivate the students more active in teaching and learning process.
Based on that case, the researcher make collaboration with the teacher of Bahasa Indonesia of the third class SDN MENTORO thinks that really need to establish correction in learning strategic of students’ writing skill. Related with learning approach of the teacher, in this case, it is applied contextual teaching and learning approach by using real object out of class as the media of teaching and learning process in the third student of SDN MENTORO academic year 2009/2010.
Based on that learning in this research, so it can be known that the average result of the test in writing description in pre cycle reach for about 36,58, it means that the student in writing skill still in the low category. In cycle 1 the result of writing description in the third student of SDN MENTORO Sumobito Jombang still in enough categories with the average score is 58 and it has not reached “KKM” 6,00. Moreover, changing students’ behavior in writing description text still in normal condition, it has not appeared signify changing. After conduct the cycle 2, students’ skill in writing has reached good category, which has the average score for about 70,5 or achieve good category. Contextual teaching and learning is able to increase students’ skill is writing description, and the students also change their behavior in teaching and learning about description.

Key terms: description text, contextual teaching and learning.

BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak maju, bahasa Indonesia memiliki peranan yang penting dan strategis dalam proses komunikasi di tengah-tengah pergaulan interaksi sosial. Seseorang melalui penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar diharapkan akan mampu berkomunikasi dengan baik secara lisan maupun tulisan.
Sekolah sebagai institusi pendidikan formal memiliki fungsi dan peran strategis dalam melahirkan generasi-generasi masa depan yang terampil berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah: (1) peserta didik dapat menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia, (2) dapat membina persatuan dan kesatuan bangsa, (3) meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, (4) pemahaman keanekaragaman budaya Indonesia melalui khasanah kesastraan Indonesia, dan (5) sebagai sarana penyebarluasan pemakaian bahasa dan sastra Indonesia untuk berbagai keperluan. Para peserta didik melalui pembelajaran bahasa Indonesia diajak untuk berlatih dan belajar berbahasa yang terdiri dari  aspek keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan menulis. Peserta didik yang menguasai keterampilan menulis akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi di mana dia berada. Keterampilan menulis juga akan mampu memacu lahirnya generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Selain itu, keterampilan menulis juga mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya, karena telah terbiasa dan terlatih berkarya dengan berbagai tulisan-tulisan yang disesuaikan dengan konteks dan situasi yang sedang berkembang saat ini.
Pengajaran menulis itu sendiri dibagi menjadi empat jenis, yaitu DENA (Deskripsi, Eksposisi, Narasi, dan Argumentasi). Deskripsi adalah tulisan tentang gambaran verbal ihwal manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Cara penulisan deskripsi  menggambarkan sesuatu sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat seolah-olah merasakannya, melihat, mendengar, atau mengalami sebagaimana dipersepsi oleh pancaindera. Eksposisi adalah tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan. Narasi adalah tulisan tentang rangkaian peristiwa atau kejadian secara kronologis, baik fakta maupun rekaan atau fiksi, sedangkan Argumentasi adalah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidak-benaran dari sebuah pernyataan (Alwasilah, 2005:111).
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Seperti yang telah disebut di atas menulis deskripsi adalah gambaran verbal ihwal manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian sebagaimana dipersepsi oleh pancaindera, sehingga menulis deskripsi sangat mengandalkan pencitraan konkret dan rincian atau spesifikasi (Alwasilah, 2005:114).  
Kenyataannya di lapangan menunjukkan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa daripada melatih menggunakan bahasa, dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa. Guru Bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata. 
Harus diakui secara jujur, keterampilan menulis di kalangan  peserta didik, khususnya mengarang/menulis deskripsi, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai belum berhasil membawa peserta didik terampil berpikir dan berbahasa baik lisan maupun tulis. Jika kondisi ini dibiarkan terus, bukan tidak mungkin keterampilan menulis khususnya di kalangan SD/MI juga akan terus berada  pada aras yang rendah. Peserta didik akan terus menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar,  memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal pada saat menulis karangan.
Kajian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah, mengenai menulis deskripsi. Pembelajaran menulis deskripsi yang sekarang ini dipakai masih sangat dominan yaitu dengan menggunakan cara-cara konvensional, sehingga orientasi belajar masih berpusat pada guru dan bukan pada peserta didik. Permasalahan yang masih ada di sebagian sekolah adalah kurangnya keterlibatan peserta didik di kelas karena gurulah yang paling banyak berperan dalam pembelajaran menulis. Selain itu, guru kurang bervariasi dalam pembelajaran menulis deskripsi sehingga peserta didik tampak bosan dan enggan belajar. Peneliti berharap dengan adanya pembaharuan dan pengembangan strategi pembelajaran diharapkan dapat membantu peserta didik meningkatkan pencapaian hasil belajar Bahasa Indonesia sekaligus peserta didik lebih aktif dalam belajar. Demikian pula dengan pembelajaran menulis karangan deskripsi pada peserta didik  SDN Mentoro kelas IIIB masih mengalami berbagai masalah. Hal itu dibuktikan dengan peserta didik masih mengalami kesulitan menuangkan idenya ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, misalnya dapat dilihat dari tugas karangan peserta didik. Pada umumnya peserta didik belum maksimal menceritakan secara runtut mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi.
Pembicaraan mengenai pendidikan, tidak akan terlepas dari proses dan hasil. Pendidikan dikatakan bermutu apabila pembelajaran berlangsung secara efektif, peserta didik memperoleh pengalaman yang bermakna bagi dirinya, dan hasil pendidikan merupakan individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Untuk mewujudkan proses dan hasil tersebut maka adanya kemampuan mendayagunakan metode atau cara mengajar sangat diperlukan swadaya dan swakarsa guru yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melihat kenyataan sebagaimana dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis deskripsi pada peserta didik kelas IIIB SDN Mentoro  termasuk kurang. Tampak dari hasil tulisan mereka, penulisan ide atau gagasan masih meloncat-loncat. Peserta didik memang secara umum mampu menulis, namun mereka kurang memiliki ekspresi gagasan yang berkesinambungan dan belum memiliki urutan logis dengan menggunakan kosakata dan tata bahasa atau kaidah bahasa yang benar, sehingga tidak dapat digunakan untuk menceritakan peristiwa yang diekspresikan secara jelas. Akibatnya, nilai keterampilan menulis deskripsi peserta didik SDN Mentoro kelas IIIB masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas untuk pelajaran menulis deskripsi yang hanya mencapai angka 36,58 (standar ketuntasan belajar minimal untuk pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Mentoro kelas IIIB adalah 60,00).
Bertolak dari permasalahan yang ada, peneliti bekerja sama dengan guru Bahasa Indonesia SDN Mentoro kelas IIIB merasa sangat perlu untuk mengadakan perbaikan terhadap strategi pembelajaran keterampilan menulis bagi peserta didik. Berkaitan dengan pendekatan pembelajaran guru, dalam hal ini diterapkan pendekatan pembelajaran kontekstual/CTL (Contextual Teaching and Learning) dengan komponen pemodelan objek langsung di luar kelas. Pendekatan konstekstual/CTL  (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik  secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik  untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005 dalam Sa’ud, 2008:162).
Dalam pembelajaran kontekstual/CTL ini, guru berperan sebagai fasilitator, yaitu sebagai pemandu agar peserta didik belajar secara aktif, kreatif, dan akrab dengan lingkungan. Adapun alasan pemilihan metode tersebut dengan pertimbangan sebagai berikut ini. Pertama, model pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual/CTL  (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan luar sekolah sebagai sumber belajar dan sarana belajar. Kedua, pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) sangat efektif diterapkan di SDN Mentoro, karena selain lokasi yang mudah dijangkau oleh peserta didik, tempat pelaksanaan penelitian di lingkungan sekitar sekolah sangat tepat untuk meningakatkan kualitas menulis deskripsi. Ketiga, apabila peserta didik diajak belajar di luar kelas, peserta didik dapat melihat objek secara nyata melalui pengamatan pada situasi yang konkret. Dengan demikian, peserta didik dapat melukiskan penggambaran suatu objek secara lebih jelas dan terperinci. Keempat, dengan menggali sumber belajar yang ada di luar kelas dalam setiap pembelajaran, secara tidak langsung guru telah mendekatkan peserta didik dengan lingkunganya, sehingga peserta didik merasa dekat dan akrab dengan lingkungan luar sekolah.
Dalam konteks demikian, CTL merupakan salah satu pendekatan pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan. Peserta didik tidak hanya diajak belajar di dalam kelas, tetapi juga diajak belajar di luar kelas, agar imajinasi dan gambaran peserta didik segera terbentuk seiring dengan apa dilihat dan dialami oleh peserta didik itu sendiri, dengan cara demikian, peserta didik tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan.
Melihat kenyataan di atas, peneliti mengambil judul Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Melalui Strategi Belajar di Luar Kelas dengan Pendekatan Kontekstual pada Peserta didik  Kelas IIIB Semester Genap di SDN Mentoro Tahun Pelajaran 2009/2010.
­­
2.    Rumusan Masalah
Rumusan Masalah yang akan dikaji lebih lanjut oleh peneliti berdasarkan pada latar belakang di atas adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana keterampilan dasar rata-rata peserta didik kelas IIIB semester genap di SDN Mentoro tahun pelajaran 2009/2010 dalam menulis karangan deskripsi?
2.    Apakah ada peningkatan hasil karya tulis, khususnya karangan deskripsi, setelah dilakukan tindakan strategi belajar  di luar kelas  dengan pendekatan kontekstual pada peserta didik kelas IIIB SDN Mentoro tahun pelajaran 2009/2010?

3.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan yang diharapkan sebagai berikut:
1.    Mengetahui keterampilan dasar rata-rata peserta didik kelas IIIB semester genap di SDN Mentoro tahun pelajaran 2009/2010 dalam menulis karangan deskripsi.
2.    Mengetahui peningkatan hasil karya tulis peserta didik kelas IIIB semester genap di SDN Mentoro tahun pelajaran 2009/2010, khususnya karangan deskripsi, setelah dilakukan tindakan strategi belajar di luar kelas dengan pendekatan kontekstual.
­­­­
4.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat teoretis dan manfaat praktis sebagai berikut.
1.    Manfaat Teoretis
a)    Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran dan tolak ukur kajian pada penelitian lebih lanjut dalam usaha memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar, khususnya dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi.
b)    Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan pembelajaran yang mendukung kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan pendekatan kontekstual untuk mengembangkan keterampilan menulis karangan deskripsi.
2.    Manfaat Praktis
a)    Manfaat bagi peserta didik
Meningkatkan keterampilan dan menumbuhkan kreativitas peserta didik  dalam menulis karangan deskripsi.
b)    Manfaat bagi guru
Mengatasi kesulitan guru dalam pembelajaran menulis dan sebagai alternatif untuk mengembangkan pendekatan pengajaran bahasa serta menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik.

c)    Manfaat bagi peneliti
Mengembangkan wawasan dan mendapatkan pengalaman keilmuan.

5.    Definisi Operasional
1.    Keterampilan Menulis
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain, kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan, 2008:3).
2.    Karangan Deskripsi
Karangan deskripsi adalah hasil karya tulisan untuk menggambarkan sesuatu objek sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat seolah-olah merasakannya, melihat, mendengar, atau mengalami sebagaimana dipersepsi oleh pancaindera (Alwasilah, 2005:114).
3.    Pendekatan Kontekstual
Pendekatam kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik  secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, menurut Sanjaya (dalam Sa’ud, 2008:162).
4.    Komponen Pemodelan
    Komponen pemodelan adalah bagian dari proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap peserta didik, sebab dengan komponen pemodelan peserta didik dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak (Sa’ud, 2008:171).

BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR


1.    Landasan Teori

Pada bab Landasan Teori  ini dipaparkan meliputi keterampilan menulis, hakikat menulis, tujuan menulis, hakikat menulis karangan deskripsi, pembelajaran kontekstual, pembelajaran menulis dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan objek langsung. Teori-teori ini akan menjadi landasan dalam penelitian ini.
­­­­­
a.    Keterampilan Menulis
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang cukup kompleks. Keterampilan menulis diajarkan dengan tujuan agar peserta didik mempunyai kemampuan dalam menuangkan ide, gagasan, pikiran, pengalaman, dan pendapatnya dengan benar. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Menulis disebut sebagai kegiatan produktif karena kegiatan menulis menghasilkan tulisan, dan disebut sebagai kegiatan yang ekspresif karena kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan, 2008:3-4).
Keterampilan menulis diawali oleh minat, kreativitas, sebilangan latihan dan penalaran yang tajam akan fenomena sosial yang ada, dan tak kalah pentingnya adalah kebiasaan membaca sebagai sumber bacaan (Alwasilah, 2005:43, yang dikutip dari Pikiran Rakyat, 10 Juni 2002).
Keterampilan menulis memiliki peran yang sangat penting bagi peserta didik, karena setiap tugas yang diberikan guru dapat dilakukan dengan baik apabila peserta didik memiliki kemampuan menulis yang baik.
Jadi, menulis tampaknya semakin mendapat tempat yang istimewa. Keterampilan menulis diperlukan siapa saja, tidak hanya bagi penulis yang memang profesinya digantungkan dari kegiatan tulis-menulis, tetapi keterampilan menulis juga harus dimiliki siapa pun.
­
b.    Hakikat Menulis
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik menggambarkan suatu bahasa yang dipakai oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dari gambaran grafik itu. Menulis merupakan representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa (Lado dalam Tarigan, 2008:22).
Menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan. Orang yang melakukan kegiatan coret mencoret di tembok juga bisa dikatakan menulis, dengan atau tanpa maksud dan perangkat tertentu. Namun demikian, menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang  dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah  dipahami. Definisi di atas mengungkapkan bahwa menulis yang baik adalah menulis yang bisa dipahami oleh orang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis berarti melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan (Nurudin, 2010:4).
Menulis itu juga kegiatan komunikasi. Sama dengan komunikasi lisan, pesan yang tepat dan efektif akan memudahkan penerima pesan memahaminya. Komunikator (penyampai pesan) yang baik tentu adalah mereka yang bisa menggunakan atau menyesuaikan pesan yang disampaikannya sesuai dengan siapa komunikannya (penerima pesan). Penulis yang baik adalah penulis yang juga mampu menggunakan teknik menulis secara berbeda tergantung dari sasaran tulisannya dan untuk tujuan apa tulisan itu dibuat.
Tulisan yang baik dapat menghubungkan antara penulis sebagai pemberi pesan dan pembaca sebagai penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan harus ditulis secara sistematis agar pembaca dapat menangkap pesan dengan jelas dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
­
c.    Tujuan Menulis
Menulis mempunyai tujuan yang khusus seperti menginformasikan, melukiskan, dan menyarankan. Tujuan menulis adalah memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang ke dalam sepenggal tulisan. Penulis memegang suatu peranan tertentu, dalam tulisan mengandung nada yang sesuai dengan maksud dan tujuannya.
Menurut Tarigan (2008:24) setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan, tetapi karena tujuan itu sangat beraneka ragam. Bagi penulis yang belum berpengalaman ada baiknya memperhatikan tujuan menulis, yaitu memberitahukan (mengajar), menyakinkan (mendesak), menghibur (menyenangkan), mengekspresikan perasaan dan emosi.
Tujuan menulis menurut Hugo (dalam Tarigan, 2008:25-26) adalah sebagai berikut: (1) Assignment purpose (tujuan penugasan), penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri; (2) Altruistic purpose (tujuan altruistik), penulis bertujuan menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca, memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu; (3) Persuasive purpose (tujuan persuasif), tulisan yang bertujuan menyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan; (4) Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan), tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan penerangan kepada para pembaca; (5) Self-ekspressive purpose (tujuan pernyataan diri), tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca; (6) Creative purpose (tujuan kreatif), tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian; (7) Problem solving purpose ( tujuan pemecahan masalah), tujuan penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi dengan cara menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.
Menurut The Liang Gie (dalam Nurudin, 2010:50), pengolongan menurut bentuk meliputi cerita, lukisan, paparan, dan argumentasi. Namun, dalam hal ini bentuk juga bisa ditambah dengan persuasi. Alasannya, persuasi juga merupakan bentuk yang mempunyai, ciri, kepentingan, dan tujuannya sendiri. Dengan demikian, didasarkan pada bentuk, tulisan terdiri dari cerita (narasi), lukisan (deskripsi), paparan (eksposisi), argumentasi (pendapat), dan persuasi.
Tujuan menulis adalah menyampaikan pesan kepada pembaca, bila tidak dibaca atau bila tulisan tidak memaparkan sasaran penulisan secara cermat dan rinci maka kegiatan menulis itu menjadi sia-sia. Bagi penulis yang belum berpengalaman ada baiknya juga memperhatikan objek tulisan. Oleh karena itu, apa yang seyogyanya pertama dibiasakan ditulis adalah diri sendiri, rumah sendiri, keluarga sendiri, dan seterusnya (Alwasilah, 2005:111).
Menurut Alwasilah (2005:111) pengajaran menulis itu dibagi menjadi menjadi empat jenis sesuai dengan tujuan penulisannya, yaitu Eksposisi, Deskripsi, Argumentasi, dan Narasi. Eksposisi adalah tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan.  Deskripsi adalah gambaran verbal ihwal manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Cara penulisan ini menggambarkan sesuatu sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat mampu (seolah-olah merasakannya, melihat, mendengar, atau mengalami) sebagaimana dipersepsi oleh pancaindera. Argumentasi adalah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidak-benaran dari sebuah pernyataan. Narasi adalah rangkaian peristiwa atau kejadian secara kronologis, baik fakta maupun rekaan atau fiksi.
Jadi, dari teori di atas maka tujuan menulis adalah assignment purpose (tujuan penugasan), altruistic purpose (tujuan altruistik), persuasive purpose (tujuan persuasif), informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan), self-ekspressive purpose (tujuan pernyataan diri), creative purpose (tujuan kreatif), problem solving purpose ( tujuan pemecahan masalah). Tujuan penulisan menyatakan maksud dan pengarang itu menulis atau mengarang. Paling tidak pokok bahasan atau tujuan penulisan dan karangan itu harus ada dan hidup terus-menerus dalam pikiran penulis dan pengarang.
­
d.    Hakikat Menulis Karangan  Deskripsi
Deskripsi adalah gambaran verbal ihwal manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Cara penulisan ini menggambarkan sesuatu sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat mampu (seolah merasakannya, melihat, mendengar, atau mengalami) sebagaimana dipersepsi oleh pancaindera. Karena dilandaskan pada pancaindera, maka deskripsi sangat mengandalkan pencitraan konkret dan rincian atau spesivikasi. Semua itu diniati demi terciptanya impresi dominan yang menjadi tujuan penulisan. Karena pencitraan dan spesifikasi ini, deskripsi menjadi hidup dan sering membuat argumen menjadi sangat persuasif.  Deskripsi bisa bersifat objektif dan subjektif tergantung tujuan penulisan (Alwasilah, 2005:114).
Fungsi utama dari deskripsi adalah membuat para pembacanya melihat barang-barang atau objeknya. Deskripsi membuat kita melihat atau membuat visualisasi mengenai objeknya. Deskripsi membuat kita seolah-olah objek garapan secara hidup dan konkret.
Misalnya kita akan membuat deskripsi tentang sebuah rumah, diharapkan mengajukan banyak penampilan individu dan karakteristik dari rumah itu, dan beberapa aspek yang dapat dianalisis, seperti besarnya, konstruksinya, dan rancangan arsitekturnya. Sasaran yang dituju adalah memberi perhatian pada penampilan yang khas dari objeknya. Deskripsi lebih memberikan citra yang menarik mengenai objek itu dan berhubungan dengan pancaindera dan pencitraan, maka banyak tulisan deskripsi diklasifikasikan sebagai tulisan kreatif.
Tujuan menulis deskripsi adalah membuat para pembaca menyadari dengan hidup apa yang diserap penulis melalui pancaindera, merangsang perasaan pembaca mengenai apa yang digambarkannya. Objek yang dideskripsikan mungkin sesuatu yang bisa ditangkap dengan pancaindera kita, misalnya pemandangan alam, gedung-gedung bertingkat, wajah seseorang, suasana hujan yang disertai guntur, dan sebagainya.
Deskripsi dibagi menjadi dua, yaitu deskripsi ekspositori dan deskripsi impresionistis. Deskripsi ekspositori menunjuk pada deskripsi yang logis, sedangkan deskripsi impresionistis menggambarkan impresi (kesan) penulis ihwal yang dituliskannya (Alwasilah, 2005:114).
Sedangkan menurut Nurudin (2010:61), tulisan deskripsi juga dibagi menjadi dua, yakni pendekatan realistis dan impresionis.
1)    Pendekatan Realistis
Dalam penulisan dengan memakai pendekatan realistis ini, penulis diituntut untuk memotret hal/benda seobjektif mungkin sesuai dengan keadaan yang dilihatnya. Ia bersikap seperti kamera yang mampu membuat detail-detail, rincian-rincian secara orisinil, tidak dibuat-buat, dan harus dirasakan oleh pembaca sebagai sesuatu yang wajar.

Contoh:
“Steak” Tempo Dulu Toko Oen
Memasuki Toko Oen di Jalan Basuki Rahmat, Malang, Jawa Timur,  suasana tempo dulu langsung menyapa. Ada radio kuno di satu sudut. Ada pramusaji dengan busana ala jaman kolonial, juga kursi kuno yang terawat.
Saya tamu pertama pada pagi itu. Jarum jam menunjuk pukul 11.00, memang bukan jam makan. Saya memilih tempat duduk di kursi rotan dengan meja kayu bulat di tengah ruangan. Beberapa pramusaji berbusana ala jaman kolonial dengan jas tutup putih dilengkapi sarung pendek dan peci hitam tersenyum menyapa.
Ruangan yang luas menjadi tampak penuh, salah satunya karena banyaknya foto-foto yang dipajang di dinding, foto hitam-putih mengenai kota Malang tempo dulu. Ada foto Hotel Tugu, beberapa penanda Kota Malang, masjid tua, juga tentunya eksterior Toko Oen 
2)    Pendekatan Impresionis
Tulisan dengan memakai pendekatan ini berusaha menggambarkan sesuatu secara subjektif. Maksudnya, agar setiap penulis bebas dalam memberi pandangan atau interpretasi terhadap bagian-bagian yang dilihat, dirasakan, atau dinikmatinya. Hal ini sesuai dengan sikap seorang seniman atau sastrawan yang dengan kepekaannya mampu mengekspresikan peristiwa yang dijumpainya.
Tulisan deskripsi impresionis ini biasa digunakan dalam bentuk tulisan narasi yang menggambarkan sebuah keadaan dengan objek-objek di sekitarnya. Tujuannya, agar pembaca bisa ikut merasakan apa yang dirasakan oleh penulisnya.
Contoh:
Di ruang makan bangunan berarsitektur tua itu masih terdapat 43 kalender dan lebih dari lima jam dinding. Seluruhnya dipajang tanpa mengindahkan kaidah-kaidah interior. Di dinding barat dipajang gambar Karto Wijoyo (alm) berpakaian jawa dengan pikulan soto. Gambar pendiri “dinasti” Soto Kadipiro ini pun dipepet poster-poster kalender. Widadi Dirjo Utomo, pewaris pertama Soto Kadipiro, rupanya punya strategi dagang menarik. Bagi dia yang terpenting bersosialisasi secara intim dengan pelanggan ...............(“Menghirup Harum Soto Kadipiro”, Kompas, 29 Oktober 2006).
Deskripsi lebih menekankan pengungkapannya melalui rangkaian kata-kata. Walaupun untuk membuat dekripsi yang baik penulis harus mengadakan identifikasi terlebih dahulu, namun pengertian deskripsi hanya menyangkut  pengungkapan melalui kata-kata. Dengan mengenal ciri-ciri objek garapan, penulis dapat menggambarkan secara verbal objek yang ingin diperkenalkan kepada para pembaca.
Karangan deskripsi adalah adalah karangan yang melukiskan suatu objek sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, merasakan hal-hal yang ditulis penulis. Menulis karangan deskripsi dapat menumbuhkan kreativitas peserta didik  dalam menggambarkan hal-hal konkret sebelum menuliskan hal-hal yang akan abstrak.
Sesuai dengan perkembangan teknologi komunikasi, peserta didik dituntut untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Seseorang dikatakan berhasil dalam menulis, jika ia dapat mengkomunikasikan gagasannya secara tertulis kepada pembaca dan dapat memahami tujuan penulis dalam menuliskan gagasannya.
Jadi karangan deskripsi adalah suatu karangan yang didalamnya memberikan perincian yang mendetail tentang objek sehingga seakan-akan pembaca melihat, mendengar atau mengalami langsung tentang objek tersebut. Tujuan dari tulisan deskripsi adalah menciptakan gambaran objek kepada pembaca agar seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan penulis. Objek karangan deskripsi dapat berupa benda, orang, peristiwa, suasana dan lainnya.
­
e.    Pembelajaran Kontekstual   
Pembelajaran kontekstual (Contectual Teaching and Learning) atau CTL intinya, peserta didik  akan belajar dengan baik , apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang mereka ketahui, serta proses belajar yang produktif jika peserta didik terlibat aktif dalam  proses belajar di sekolah. Peserta didik akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Peserta didik menunjukkan hasil belajar dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan. Belajar dipandang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk membangkitkan ide-ide yang masih laten melalui kegiatan introspeksi (Nurhadi, 2004:9).
Pendekatan yang menonjolkan keaktifan peserta didik dalam melakukan sesuatu, akan memberikan pengalaman belajar yang berharga dan bernuansa lain kepada peserta didik. Kegiatan yang dilakukan bersama peserta didik yang seolah peserta didik terbenam dan larut rasa keingintahuan yang lebih jauh. Belajar untuk tahu dan belajar untuk berbuat, setidaknya mereka menjalani belajar untuk menambah pengetahuan dan informasi ke otaknya. Mereka melakukan praktik dilanjutkan belajar menjadi. Andreas Harefa menuliskan, “Diantara teori dan praktik terdapat jembatan yang justru amat penting untuk memanusiakan diri seseorang, yakni ia harus belajar menjadi”. Sesungguhnya inilah inti dari seluruh pembelajaran apapun model atau strateginya dalam dunia pendidikan. Salah satu inovasi pembelajaran kontekstual akan membicarakan bagaimana peserta didik seseorang yang akrab dengan lingkungan di mana, apa, dan siapa sebenarnya dirinya itu (Sa’ud, 2008:162).
Pembelajaran kontekstual menempatkan peserta didik di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal peserta didik dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual peserta didik dan peranan guru
Belajar akan lebih bermakna jika peserta didik mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan hanya sekedar mengetahuinya saja. Oleh karena itu, melalui pembelajaran kontektual diharapkan target penguasaan materi akan lebih berhasil dan peserta didik dapat semaksimal mungkin untuk mengembangkan kompetensinya.

1)    Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contectual Teaching and Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, menurut Sanjaya (dalam Sa’ud, 2008:162).
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sabagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Nurhadi, 2004:13).
Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi peserta didik dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup.
Banyak manfaat yang dapat diambil oleh peserta didik dalam pembelajaran kontekstual yaitu terciptanya ruang kelas yang di dalamnya peserta didik akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat yang pasif, dan mereka akan lebih bertanggung jawab dengan apa yang mereka pelajari. Pembelajaran akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan. Peserta didik akan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, mereka menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual ini adalah membantu peserta didik dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (peserta didik). Selain itu guru juga memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat diperlukan, maksudnya belajar dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. Dari “guru akting di depan kelas, peserta didik menonton” ke “peserta didik aktif bekerja dan berkarya guru mengarahkan”. Pengajaran harus berpusat pada “bagaimana cara” peserta didik menggunakan pengetahuan baru mereka sehingga strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan dengan hasilnya.


2)    Kecenderungan Pemikiran tentang Belajar
Menurut Nurhadi, (2004:17) beberapa kecenderungan pemikiran dalam teori belajar yang mendasari pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
a)  Proses Belajar
·    Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
·    Anak belajar dan mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
·    Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter).
·    Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
·    Manusia mempunyai tingkat yang berbeda  dalam menyikapi situasi baru.
·    Peserta didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
·    Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus diterapkan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.

b)  Transfer Belajar
·    Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
·    Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dan konteks yang terbatas (sempit), sedikit demi sedikit.
·    Penting bagi peserta didik tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan ‘bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
c)  Peserta didik sebagai Pembelajar
·    Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
·    Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru, akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
·    Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara ‘yang baru’ dan yang sudah diketahui.
·    Tugas guru memfasilitasi: agar informasi baru bermakna memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan peserta didik untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
d)    Pentingnya Lingkungan Belajar
·    Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang terpusat pada peserta didik. Dari “guru akting di depan kelas, peserta didik menonton” ke “peserta didik akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”.
·    Pengajaran harus berpusat pada ‘bagaimana cara’ peserta didik menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
·    Umpan balik amat penting bagi peserta didik yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar.
·    Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
3)    Pendekatan dan Prinsip Pembelajaran Kontekstual
 a)  Pendekatan pembelajaran konstekstual
Pendekatan pembelajaran CTL menekankan pada aktivitas peserta didik secara penuh, baik fisik maupun mental. CTL memandang bahwa belajar bukanlah kegiatan menghafal, mengingat fakta-fakta, mendemonstrasikan latihan secara berulang-ulangakan tetapi proses berpengalaman dengan kehidupan nyata (Sa’ud, 2008:165).
 b)  Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual
Menurut Elaine B. Jhonson (dalam Sa’ud, 2008:165), mengklaim bahwa dalam pembelajara kontekstual, minimal ada tiga prinsip utama yang sering digunakan, yaitu: saling ketergantungan (interdepence), diferensiasi (differetiation), dan pengorganisasian (self organization).
4)    Komponen-komponen dalam Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
a)  Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme (Constructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pemdekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,  yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksikan pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Peserta didik perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Peserta didik mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme  adalah bahwa peserta didik harus menemukan dan mentranformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik sendiri (Nurhadi, 2004:33).
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman. Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan itu berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi dari dalam diri seseorang, karena itu pengetahuan terbentuk oleh objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterprestasikan objek tersebut (Sa’ud, 2008:168-169).
b)    Menemukan (Inquiry)
Menemukan (inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengikat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam inkuiri terdiri atas siklus yang mempunyai langkah-langkah antara lain (1) merumuskan masalah, (2) mengumpulkan data melalui observasi, (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiens yang lain (Nurhadi, 2004:43).
Komponen inquiry merupakan proses pembelajaran berdasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Tindakan guru bukanlah mempersiapkan anak untuk menghafal sejumlah materi, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis, akan tetapi perkembangan diarahkan pada intelektual, mental emosional, dan kemampuan individu yang utuh (Sa’ud, 2008:169).


c)    Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari ‘bertanya’. Questioning (bertanya) merupakan srategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir peserta didik. Kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
(1)    menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
(2)    mengecek pemahaman peserta didik
(3)    membangkitkan respon kepada peserta didik mengetahui sejauh mana keingintahuan peserta didik mengetahui hal-hal yang sudah diketahui peserta didik
(4)    menfokuskan perhatian peserta didik pada sesuatu yang dikehendaki guru
(5)    untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari peserta didik untuk menyegarkan kembali pengetahuan peserta didik (Nurhadi, 2004:45-46).
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkanmenjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran  kontekstual, guru tidak banyak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi berusaha memancing agar peserta didik menemukan sendiri. Oleh karena itu, melalui bertanya guru dapat membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya (Sa’ud, 2008:170).
d)    Masyarakat Belajar (Learning Community)
Hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman, antarkelompok, dan antarmereka yang tahu ke mereka yang sebelum tahu. Dalam masyarakat belajar, anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan masyarakat memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman bicaranya (Nurhadi, 2004:47).
Menurut Sa’ud (2008:170) konsep masyarakat  belajar dalam pembelajaran kontekstual mengharap agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang tua (team work) dalam bentuk kelompok belajar baik formal maupun lingkngan secara alamiah. Hasil belajar diperoleh dari sharing dengan orang lain, antarteman,antar kelompok berbagi pengalaman pada orang lain.
e)    Pemodelan (Modeling)
Sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para peserta didiknya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar peserta didik-peserta didiknya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar (Nurhadi, 2004:49).
Menurut Sa’ud (2008:171) adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap peserta didik, sebab melalui modeling peserta didik dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak.
f)    Refleksi (Reflection)
Refleksi (reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan mengendap dibenak peserta didik. Peserta didik mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru (Nurhadi, 2004:51).
Menurut Sa’ud (2008:171) refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui.
g)    Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual yang memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didiknya. Assessement adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Gambaran perkembangan belajar peserta didik perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar. Jika data yang dikumpulkan oleh guru mengidentifikasi bahwa peserta didik mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera mengambil tindakan tepat agar peserta didik terbebas dari kemacetan tersebut (Nurhadi, 2004:52).
Menurut Sa’ud (2008:172) penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan peserta didik. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan meliputi seluruh aspek domai penilaian. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.
­
f.    Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan Objek Langsung
Dalam Kurikulum 2006 atau yang sekarang ini disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bahwa pembelajaran diserahkan kepada peserta didik dan guru hanya sebagai fasilitator. Peserta didik tidak lagi menjadi objek belajar melainkan sebagai subjek belajar. Oleh karena itu, peserta didik harus aktif dalam belajar, termasuk juga dalam pembelajaran menulis.
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi  ini adalah pendekatan kontekstual komponen pemodelan objek langsung. Kaitan antara pembelajaran menulis dengan pendekatan ini adalah terdapat pada langkah pembelajarannya. Langkah yang pertama yang dilakukan oleh guru adalah memberikan contoh sebuah karangan deskripsi dengan menunjukkan satu objek misalnya saja bunga, dari objek itu diharapkan peserta didik mampu mengembangkan sebuah paragraf karena mereka melihat sendiri objek yang akan ditulis ke dalam sebuah karangan deskripsi.
Melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ini diharapkan peserta didik merasa lebih mudah dalam menulis karena mereka sudah mempunyai gambaran yang telah diberikan oleh guru melalui sebuah contoh, dan diharapkan peserta didik dapat mengembangkan ide, pikiran, dan gagasan mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
­­­­­­­­
2. Kerangka Berpikir
Kemampuan menulis memberikan makna yang penting untuk berkomunikasi secara tidak langsung dalam kehidupan. Memiliki kemampuan menulis tidaklah semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Semakin banyak kita berlatih menulis, maka akan semakin menguasai keterampilan tersebut. Tidak ada orang yang dapat langsung terampil menulis tanpa melalui suatu proses latihan.
Sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya menulis karangan deskripsi, guru harus menerapkan pengetahuannya mengenai teknik dalam mengajar. Peneliti dalam hal ini sebagai guru menggunakan metode pembelajaran kontekstual melalui komponen pemodelan dengan mengamati  objek langsung guna mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran.
Penggunaan metode pembelajaran kontekstual melalui komponen pemodelan dengan mengamati  objek langsung akan menuntut peserta didik berpikir aktif menuangkan apa yang ia pikirkan dan ia rasakan. Metode pembelajaran kontekstual melalui komponen pemodelan dengan mengamati  objek langsung juga dapat membantu peserta didik untuk mengalirkan secara bebas apapun yang telah tersimpan di dalam pikiran dan perasaan peserta didik.
Lingkungan fisik, sosial, atau budaya merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar peserta didik. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan membuat peserta didik merasa senang dalam belajar. Mengalami langsung apa yang sedang dipelajari akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain atau guru menjelaskan. Membangun pengamatan dan pemahaman serta pengalaman langsung akan lebih mudah daripada membangun pemahaman dari uraian lisan guru. Belajar dengan cara mengalami langsung akan meningkatkan kreativitas peserta didik dalam menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.

0 komentar

Poskan Komentar