Advertise

Selasa, 03 September 2013

Makalah Strategi Kognitif : PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM MENYAMPAIKAN GAGASAN PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP NEGERI 1 MOJOAGUNG JOMBANG

I.    LATAR BELAKANG MASALAH

Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju arus globalisasi, keterampilan berkomunikasi pada pembelajaran IPA khususnya pada penyampaian gagasan memiliki peranan yang penting dan strategis dalam proses komunikasi di tengah-tengah pergaulan dan interaksi sosial dalam menunjang kemajuan teknologi. Melalui penguasaan penyampaian gagasan yang baik dan benar, seseorang akan mampu berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis, dengan pihak lain sesuai konteks dan situasinya.
Dengan memiliki keterampilan penyampaian gagagsan secara baik dan benar, kelak mereka diharapkan menjadi generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya. Salah satu aspek keterampilan penyampaian gagasan yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya salah satunya adalah keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi.
Keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi dalam pembelajaran IPA juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan tersebut juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara.
Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi di kalangan siswa SMP, khususnya dalam pembelajaran IPA pada saat diskusi kelompok maupun pleno, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran IPA di sekolah yang dinilai belum maksimal dalam membantu siswa terampil berpikir dan sekaligus menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi. Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran yang menunjang keterampilan berkomunikasi pun siswa dapat menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9).
Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. Keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi siswa SMP berada pada tingkat yang rendah; diksi (pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancu, alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif.
Demikian juga keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi siswa kelas VII-H SMPN 1 Mojoagung, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur.  Berdasarkan hasil observasi, hanya 20% (6 siswa) dari 32 siswa yang dinilai sudah terampil bercerita dalam situasi formal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, di antaranya kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata. Paling tidak, ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses komunikasi sehari-hari, banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur.
Dari faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi bagi siswa SMP. Pada umumnya, guru cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan bercerita berlangsung monoton dan membosankan. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa bercerita sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang bercerita. Akibatnya, keterampilan bercerita hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum manunggal secara emosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan bercerita bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya.
Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi dalam pembelajaran IPA telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). (Nurhadi, 2000).
Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi di kalangan siswa SMP akan terus berada pada aras yang rendah. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar, memilih kata (diksi) yang tepat, menyusun struktur kalimat yang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat bercerita. Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan bercerita yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, dan menyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Pembelajaran keterampilan bercerita pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa klas VII-H SMPN 1 Mojoagung Jombang Jawa Timur, dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi berlangsung monoton dan membosankan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif; aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. Melalui pendekatan pragmatik, siswa diajak untuk bercerita dalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif. Dalam pendekatan pragmatik, guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya. Prinsip-prinsip pemakaian bahasa yang diterapkan dalam pendekatan pragmatik, yaitu (1) penggunaan bahasa dengan memperhatikan aneka aspek situasi ujaran; (2) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesantunan; (3) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kerja sama; dan (4) penggunaan bahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu tindak komunikatif. Melalui prinsip-prinsip pemakaian bahasa semacam itu, pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan bercerita diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan berbicara mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional, kognitif, emosional, dan afektif. Melalui penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran IPA, keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, para siswa SMP akan mampu menumbuhkembangkan potensi intelektual, sosial, dan emosional yang ada dalam dirinya, sehingga kelak mereka mampu berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara matang, arif, dan dewasa. Selain itu, mereka juga akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif, serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Yang tidak kalah penting, para siswa juga akan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, serta mampu memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.

II.    MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.     Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi pada pembelajaran IPA bagi siswa SMP Negeri 1 Mojoagung?   
2.     Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi bagi siswa SMP Negeri 1 Mojoagung?

II. PENYELESAIAN MASALAH
Dengan menggunakan Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi pada pembelajaran IPA di SMP diharapkan dapat meningkatkan keterampilan bercerita bagi siswa SMP. Menurut Halliday (1975) siswa itu belajar berbahasa, belajar melalui bahasa, dan belajar tentang bahasa. Pengembangan bahasa pada anak memerlukan kesempatan menggunakan bahasa. Oleh karena itu, kita membutuhkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan yang banyak atau kaya bagi siswa untuk menggunakan bahasa di dalam cara-cara yang fungsional (Gay Su Pinnel dan Myna L. Matlin, 1989:2). Guru yang memberi siswa kesempatan mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks akan meningkatkan pembelajaran karena mereka (guru) memberi siswa pelatihan di dalam keterampilan yang terintegrasi dengan literasi tingkat tinggi. Komunikasi adalah inti pengajaran language arts, sementara itu tugas-tugas komunikasi yang kompleks adalah inti kemahirwacanaan tingkat tinggi (high literacy) (CED, 2001).
Selanjutnya, guru yang memberi pengalaman kepada siswa dengan pembelajaran terpadu melalui lingkungan mahir literasi (literate environment) ternyata dapat meningkatkan pembelajaran karena mereka (siswa) menggunakan proses-proses yang saling berkaitan antara membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan untuk komunikasi alamiah senyatanya (authentic commmunication) (Salinger, 2001). Namun, secara jujur harus diakui bahwa pembelajaran IPA di SMP belum berlangsung seperti yang diharapkan. Pembelajaran IPA lebih cenderung bersifat teoretis dan kognitif daripada mengajak siswa untuk belajar menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi dalam konteks dan situasi yang nyata. Akibatnya, apa yang diperoleh siswa di kelas dalam pembelajaran tidak bisa diterapkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pembelajaran IPA terlepas dari konteks pengalaman dan lingkungan siswa. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa dan konteks komunikasi.
Dalam konteks demikian, diperlukan upaya serius melalui penggunaan pendekatan yang inovatif dan kreatif agar pembelajaran IPA di SMP bisa berlangsung dalam suasana yang kondusif, interaktif, dinamis, terbuka, menarik, dan menyenangkan. Melalui proses pembelajaran semacam itu, siswa diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan intelektual, sosial, dan emosional, sehingga mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar sesuai dengan konteks dan sitiuasinya. pembelajaran yang diduga mampu menciptakan suasana yang kondusif; interaktif, dinamis, terbuka, inovatif, kreatif, menarik, dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik.
Pendekatan pragmatik termasuk salah satu pendekatan komunikatif yang mulai digunakan dalam pengajaran IPA untuk menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi sejak munculnya penolakan terhadap paham behaviorisme melalui metode Drill-nya. Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa dirintis oleh Michael Halliday dan Dell Hymes. Hymes menciptakan istilah communicative competence, yaitu kompetensi berbahasa yang tidak hanya menuntut ketepatan gramatikal, tetapi juga ketepatan dalam konteks
sosial (Zahorik dalam Kurikulum 2004:4). Proses pemerolehan bahasa mempersyaratkan adanya interaksi yang bermakna dalam bahasa sasaran. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemerolehan bahasa dapat dipilah menjadi dua golongan, yaitu faktor eksternal dan faktor internal (Chaika, l982). Faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan bahasa seseorang, sedangkan faktor internal berkaitan dengan keadaan intern di dalam diri pelahar bahasa. Faktor eksternal masih dipilah menjadi dua macam lagi, yaitu lingkungan bahasa makro dan lingkungan bahasa mikro. Lingkungan makro terdiri atas (1) kealamiahan bahasa, (2) peranan anak-anak dalam berkomunikasi, (3) tersedianya sumber yang dapat membetulkan untuk menjelaskan makna, dan (4) ketersediaan model atau contoh yang bisa ditiru. Lingkungan mikro adalah keadaan lingkungan kelas tempat anak-anak belajar, yaitu bagaimana guru bisa menciptakan kelas agar anak-anak bisa belajar keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, bukan hanya tahu tentang bahasa saja.
Dari berbagai penelitian tentang pengajaran menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi disimpulkan bahwa keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi siswa SMP, khususnya keterampilan berbicara, dikembangkan melalui tiga cara, yaitu: (1) anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan memproduksi ujaran dalam bahasa target secara lebih sering, lebih tepat, dan dalam variasi yang luas; (2) Anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan cara mengolah input dari ujaran orang lain; dan (3) anak-anak mengembangkan bahasa keduanya melalui pelibatan diri dalam tugas atau interaksi yang menuntut adanya kemampuan kreatif berkomunikasi dengan orang lain (Ellis, 1986). Inti dari temuan itu adalah bahwa keaktifan anak-anak di kelas dalam pembelajaran IPA perlu dilakukan melalui aktivitas berlatih berujar secara nyata. Penelitian-penelitian itu pada akhirnya menghasilkan sejumlah hipotesis baru tentang pembelajaran IPA khususnya keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi. Secara umum ada korelasi antara perilaku aktif ini dengan perolehan belajar anak. Dengan kata lain, hasil penelitian dalam bidang pengajaran IPA menyarankan adanya program pengajaran IPA yang menekankan pada pembangkitan input anak-anak (latihan bercakap-cakap, membaca, atau menulis yang sebenarnya). Kompetensi komunikatif yang menjadi muara akhir pencapaian pembelajaran memiliki ciri-ciri: (1) makna itu penting, mengalahkan struktur dan bentuk; (2) konteks itu penting, bukan item bahasa; (3) belajar bahasa itu belajar berkomunikasi; (4) target penguasaan sistem bahasa itu dicapai melalui proses mengatasi hambatan berkomunikasi; (5) kompetensi komunikatif menjadi tujuan utama, bukan kompetensi kebahasaan; (6) kelancaran dan keberterimaan bahasa menjadi tujuan, bukan sekedar ketepatan bahasa. Siswa didorong untuk selalu berinteraksi dengan siswa lain (Brown, 2001:45). Penggunaan pendekatan paragmatik dalam pengajaran IPA juga dilandasi oleh semangat pembelajaran kontruktivistik yang memiliki ciri-ciri: (1) perilaku dibangun atas kesadaran diri; (2) keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman; (3) hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, berdasarkan motivasi intrinsik; (4) seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya; (5) pembelajaran bahasa dilakukan dengan pendekatan komunikatif, yaitu siswa diajak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam konteks nyata; (6) siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran; (7) pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri, dengan cara memberi makna pada pengalamannya. Oleh karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete); (8) siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi; (9) hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber; (10) pembelajaran terjadi di berbagai konteks dan setting (Zahorik dalam Kurikulum 2004: 21-22). Penggunaan pendekatan pragmatik dalam pengajaran IPA juga didasari oleh prinsip bahwa guru menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi sebagai sebuah keterampilan, antara lain pengintegrasian antara bentuk dan makna, penekanan pada kemampuan berbahasa praktis, dan interaksi yang produktif antara guru dengan siswa. Prinsip pertama menyarankan agar pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh, berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). Dengan kata lain, agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari, misalnya, pengetahuan tata bahasa bahasa Indonesia yang sangat linguistis. Prinsip kedua menekankan bahwa melalui pengajaran IPA, siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis, serta mampu mengungkapkan gagasan dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis. Penilaian hanya sebagai sarana pembelajaran menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, bukan sebagai tujuan.

III.    KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pragmatik sebagai inovasi dalam pengajaran keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi di SMP dimaksudkan untuk melatih dan membiasakan siswa untuk berbicara sesuai dengan konteks dan situasi tutur senyatanya sehingga siswa dapat memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi sehari-hari.

SARAN   
1.    Agar para guru IPA dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran yaitu keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, khususnya bagi siswa SMP;
2.  Para guru IPA SMP diharapkan menggunakan pendekatan pragmatik dalam menyajikan aspek keterampilan menyampaikan gagasan atau pendapat dalam suatu diskusi, bahkan guru IPA di tingkat satuan pendidikan yang lebih rendah, seperti SD/MI, atau yang lebih tinggi, seperti SMA/SMK/MA, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran IPA.


IV. DAFTAR PUSTAKA

Abernathy, Rob dan Mark Reardon. 2004. 25 Kiat Menjadi Pembicara Hebat. Bandung: Kaifa.
Gunarwan, Asim. 1994. “Pragmatik: Pandangan Mata Burung” dalam Soenjono
Ibrahim, Abdul Syukur. 1992. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Nasional.
Kridalaksana, Harimurti (Ed.). 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
--------------------. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Leech, Geoffrey N. 1983. Prinsip-prinsip Pragmatik. Terjemahan M.D.D. Oka. Jakarta: UI Press.
Lubis, Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Mulgrave, Dorothy. 1954. Speech: A Handbook of Voice Training Diction and
Public Speaking. New York: Barnes & Noble Inc.
Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta: Depdikbud

0 komentar

Poskan Komentar