Advertise

Senin, 23 September 2013

Tugas Mata Kuliah Filsafat : KEPASTIAN DAN KEBENARAN PENGETAHUAN

KEPASTIAN DAN KEBENARAN PENGETAHUAN
Ilmu Filsafat merupakan ilmu yang paling banyak dibutuhkan dalam dunia ilmu pengetahuan, karena hampir semua ilmuan memakai ilmu ini sebagai dasar tulisan untuk penulisan karya tulis ilmiah. Bertitik tolak dari ilmu filsafat tersebut maka yang dicari dari filsafat dapa umumnya adalah tentang kebijakan, kebenaran dan sebagainya.
Ilmu Filsafat sangat dibutuhkan dalam dunia ilmu pengetahuan karena:
1.    Ilmu filsafat  sebagai dasar dari ilmu pengetahuan (induk), sehingga unsure-unsur ilmunya sangat tinggih.
2.    Ilmu Filsafat sebagai dasar pemikiran atau konsep
3.    Ilmu Filsafat merupakan ilmu berfikir tentang fikiran orang atau ilmu berfikir tentang berfikir atau mengkaji fikiran orang.
4.    Ilmu Filsafat merupakan kegiatan berfikir yang tidak terbatas (unlimited).
5.    Ilmu Filsafat bisa menjadi ilmu yang menjadi ilmu yang bijaksana.
6.    Ilmu Filsafat merupakan metode berfikir.
7.    Ilmu Filsafat merupakan ilmu mencari kebenaran.
8.    Ilmu Filsafat merupakan ilmu mencari kenyataan.
9.    Ilmu Filsafat merupakan ilmu mencari Hakekat.
Ilmu pengetahuan yang kita pelajari kadang-kadang menimbulkan masalah yang sulit dipecahkan oleh ilmu-ilmu itu sendiri. Masalah mengenai kepastian, kebarangkalian, kesementaraan dan kesesatan dalam ilmu-ilmu empiris dan ilmu pasti kadang-kadang juga menimbulkan masalah keobjektifannya dan kesubjektifannya sehingga menimbulkan masalah pembenaran proses yang diberi nama induksi.Pokok mengenai proses induksi serta pembenaran dan kedudukan merupakan bagian yang akan dibahas dalam materi ilmu filsafat.
Taraf-taraf Kepastian Subjektifitas dan objektifitas
    Bagaimana ilmu pengetahuan tampil di muka bumi? Kalau kita simak pertanyaan tersebut sebenarnya memiliki makna yang komplek sekali dimana masalah ilmu pengetahuan akan selalu berhubungan dengan manusia dengan pikiran manusia tentang hakikat dia hidup atau tinggal di mayapada atau alam semesta atau dunia.
    Pengetahuan dibedakan atas dua hal yang tidak bisa dipisahkan, yaitu evidensi (objek)dan kepastian (subjek). Penggabungan kedua hal tersebut merupakan ciri-ciri gejala pengetahuan. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan kepastian.
1.    Taraf-taraf kepastian dalam ilmu Empiris dan Ilmu Pasti
Kepercayaan merupakan cirri khas dari hipotesa ilmiah.Taraf kepastian, kebarangkalian, kesemen taraan dan kesesatan serta merupakan hal umum dan sering digunakan oleh para ilmuwan kemudian dimasukkan dalam ilmu-ilmu empiris dan ilmu pasti.
A.    Dalam Ilmu-ilmu Empiris
Ilmu Empiris merupakan ilmu tentang kemanusiaan. Di dalam ilmu empiris (kepastian) kita akan mengenal dua hal yaitu :
I.    Kepastian kesimpulan yang ditarik dari hokum yang berlaku.
II.    Kepastian yang bersifat sementara
B.    Dalam ilmu Pasti
Ilmu pasti merupakan aplikasi dari konteks penemuan(context of discovery) hingga menghasilkan rumus-rumus tertentu.
2.    Refleksi dan Evaluasi Filsafat atas data-data itu
Refleksi dan evaluasi dalam ilmu filsafat menekankan dalam beberapa bidang yang pertama bidang ilmu-ilmu pengetahuan yang penekanannya pada evidensi subjek dan objek, kedua ilmu-ilmu tentang kemanusian dan ketiga ilmu-ilmu alam.
    Dari uraian diatas dapat disimpulkan dbahwa taraf-taraf kepastian subjek dalam ilmu pengetahuan berdasarkan evidensi objek yang dikenal. Jadi evidensi dan kepastian lebih diwarnai oleh suatu objektifitas yang ditentukan dari luar pengalaman subjektifitas dalam ilmu-ilmu alam sampai mencapai suatu evidensi, kepastian dan objektivitas buatan lepas dari pengalaman subjetivitas dalam ilmu-ilmu pasti.
ADA TIDAKNYA KEBENARAN
    Kalau kita bicara ilmu filsafat maka pada akhirnya kita akan bicara hakekat. Hakukat pada dasarnya sesuatu yang abtrak dan universal. Semua unsur ilmu pengetahuan selalu nmengandung unsur-unsur yang abstrak dan universal.
Imu filsafat juga membicarakan kebenaran. Kebenaran itu amat sangat relative karena kebenaran bisa berdasarkan Akal atau Rasioa dan bisa berdasarkan Realita atau Fakta atau Empirik.
Ada beberapa teori tentang kebenaran yaitu:
1.    Teori kebenaran Koherensi adalah teori kebenaran yang mengandalkan akal atau rasio atau logika.
2.    Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang mengandalkan realita.
3.    Teori Kebenaran Prakmatis adalah teori kebenaran berdasarkan bermanfaatannya.
4.    Teori kebenaran Normatif adalah teori berdasarkan norma-norma yang berlaku baik norma agama, norma budaya maupun norma-norma masyarakat.
Apabila ilmu-ilmu itu melepaskan diri dari filsafat maka timbul masalah-masalah tentang  kebenaran yaitu:
1.    Paham tentang Benar dan Tepat
Menurut Aristoteles yang dimaksud “benar” menyangkut isi sedangkan “tepat” mengangkut tentang cara yang ditempuh untuk mencapai pengetahuan, yang bisa ditinjau dari ilmu-ilmu Empiris dan Ilmu Pasti
2.    Refleksi Atas ada tidaknya Kebenaran
Ada tidaknya kebenaran merupakan masalah pokok filsafat pengetahuaan, maka perlu dibahas dan dirumuskan tentang kebenaran yang ditinjau dari beberapa hal:
a.    Tentang pokok-pokok sejarah filsafat
b.    Arti kebenaran bisa diartikan dengan kenyataan adanya yang masuk akal (logika).
c.    Guna mencapai kebenaran menurut filsafat kebenaran:
1.    Apa yang dianggap tepat dalam ilmu-ilmu terpulang pada ilmu-ilmu itu sendiri.
2.    Sumbangan ilmu-ilmu empiris maupun pasti dihargai filsafat.
d.    Kedudukan Kebenaran
Kebenaran diberi batasan sebagai penyamaan akal dengan kenyataan yang terjadi pada taraf indrawi maupun akal budi tanpa perna sampai pada kesamaan sempurna yang dituju oleh kebenaran dalam pengalaman manusia. Dalam kenyataannya ilmu-ilmu pengetahuan pada dasarnya kebenaran itu selalu bersifat sementara. Ilmu-ilmu pasti tidak langsung berkecimpung dalam usaha manusia menuju kekebenaran, tepatnya perjalanan ilmu-ilmu itu merupakan
 suatu sumbangan agar pengetahuan di luar ilmu-ilmu itu makin lancer mendekati kebenaran.

PERKEMBANGAN ILMU FILSAFAT SAMPAI ABAD X1X
1.    Francis Bacon (1561-1626)
Lahir di London dengan segudang prestasi yang ia miliki. Sebagai seorang perintis Filsafat dia menguraikan tentang logika yang meliputi empat macam ketrampilan yaitu:
a.    Bidang Penemuan
b.    Bidang Perumusan
c.    Bidang Mempertahankan
d.    Bidang Pengajaran
Baron juga beranggapan bahwa ada dua cara untuk mencari dan menemukan kebenaran.
-    Akal budi bertitik pangkal pada pengamatan Indrawi yang particular lalu maju sampai pada ungkapan-ungkapan yang paling umum.
-    Akal budi bertitik pada pengamatan indrawi yang particular itu guna memperoleh dan merumuskan ungkapan-ungkapan yang kurang umum.
Menurut Bacon ada empat macam godaan atau idola yang harus dihindari yaitu:
a.    Idola Tribus (tribus: umat manusia pada umumnya)
b.    Idola Specus (specus: gua)
c.    Idola Fori (Forum: pasar)
d.    Idola Theatri (theatrum: panggung)
2.    Hume dan Kant (abad ke-18)
Menurut Hume dan Kant bahwa ada dua cara pengetahuan yaitu:
a.    Pengetahuan empiris berdasarkan pengamatan tanpa melampoi data-data pengamatan.
b.    Abstrak reasoning concerning quantity or number, yaitu matematika dan logika yang kedua-duanya deduktif.
3.    John Stuart (1806-1873)
Dalam menguraikan logika induktif John menghindari dua ekstrom
-    Generalisasi empiris yang dilakukan berdasarkan pengamatan-pengamatan yang data-datanya seolah-olah dikumpulkan secara kebetulan.
-    Mencari dukungan dalam salah satu teori mengenai mengenai induksi atau pengetahuan apriori.
Cara kerja Induksi yang dikemukakan oleh Mill menggunakan bebrapa metode antara lain:
-    Kesesuaian
-    Ketidaksesuaian
-    Gabungan Kesesuaian dan ketidakkesesuaian.
-    Residu.
ANGGAPAN-ANGGAPAN POKOK FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN PADA ABAD KE-20
1.    Lingkaran Wina
Suatu kelompok ilmuwan pasti dan alam di Wina. Merekah mendapat pengaruh dari tiga arah yaitu: 1. Empirisme dan positifvisme
           2. Metodologi ilmu empiris
           3. Perkembangan logika simbolik
Pandangan yang telah dikembangkan oleh kelompok ini disebut neopositivisme atau positivisme logis atau empirisme logis.
Filsafat ilmu pengetahuan dipandang sebagai logika ilmu maka sebagai implikasinya harus disusun berdasarkan analogi logika formal
2.    Karl Raimund Popper
Dia menentang beberapa gagasan kelompok Wina tentang pembedaan antara ungkapan yang disebut bermakna (meaningful) dari yang tidak bermakna (unmeaningful) berdasarkan ketentuan dapat tidaknya dibenarnya secara empiris. Menurutnya teori baru akan diterima jika dapat meruntuhkan teori yang lama, dengan menggunakan pengujian melalui tes empiris atau tes yang direncanakan untuk membuktikan salah apa yang diujinya. Apapila teori tersebut sesuai dan bermanfaat maka teori tersebut dapat menyingkirkan kekeliruan dan kesalahan yang dapat menimbulkan masalah.
Jadi pada kesimpulannya toeri-teori Popper ingin menghindari dua ektrim yaitu ekstrim terhadap objektivisme kasar dan ekstrim terhadap subjektivisme semata-mata, dimana seolah-olah hokum-hukum alam padat dimiliki dan dikuasai.
3.    Filsafat Ilmu Baru
Tokoh-tokoh filsafat ilmu baru antara lainThomas, Paul F, Hanson, Robbet P dan sebagainya memiliki satu cirri khas yang ingin mendobrak ilmu-ilmu yang bersifat menghambat ilmu-ilmu baru. Atas dasar kesamaan cirri khas tersebut maka para ilmuwan besepakat dan mendesak agar wajah atau citra ilmu dikonstruksikan dberdasarkan fakta-fakta sejarah ilmu.

Struktur Revolusi Ilmiah dikemukakan oleh Thomas S Kuhn (1962).
Sejarah ilmu harus merupakan titik pangkal segala penyelidikan yang diharapkan bisa semakin mendekati kenyataan ilmu dan aktivitas ilmiah sesungguhnya. Dari sini diimplikasikan bahwa ilmu tidak berkembang secara kumulatif dan evolusioner, melainkan secara revolusioner.

Pendekatan Anarkistik yang dikemukakan oleh Paul Feyerabend merupakan pandangan baru yang  amat menantang dan baru dalam ilmu filsafat. Menurut Paul ilmu yang hendak didobrak adalah anggapan bahwa ada keteraturan dalam perkembangan ilmu, yang kemudian keteraturan tersebut itu hendak diwujudkan dalam hokum dan system.Ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak lagi berfungsi membebaskan manusia, namun justru menguasai dan memperbudak manusia. Dia sangat menekankan pada kebebasan individu dan mendukung kebebasan manusia. Dia juga tidak mau menerima superioritas ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, karena hal itu hanya membenarkan suatu perbudakan terselubung dan jelas sekali dia sangat menolak sikap otoriter dalam bentuk apapun.

Imre Lakatos (1965) seorang ilmuwan yang sepaham dengan Popper mengembangkan ilmunya menemukakan bahwa bukan teori tunggal yang harus dinilai sebagai ilmiah atau tidak, melainkan rangkaian teori-teori satu dengan yang lain dihubungkan dengan suatu kontinuitas yang menyatukan teori-teori tersebut menjadi menjadi program-program riset.

4.    Pembaruhan Epistemologis dalam Ilmu-ilmu Sosial Historis.
Dengan didirikannya Institut Penyelidikan Sosial Frankfrurt banyak sekali pembaruhan ilmu-ilmu pengetahuan social, sehingga masalah tentang ada tidaknya kebenaran Mutlak dapat dibicarakan khususnya bidang ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia.  Di era ini pembaruhan ditujukan pada masyarakat yang merupakan hasil dari perkembangan ilmu-ilmu alam dan industry mutakhir yang cenderung mengasingkan manusia dari dirinya sendiri atau tidak kenal dirinya sendiri, sehingga penekanan dari ilmu ini bukan pada ekonomi melainkan lebih dilihat dari sudut social dan psykologi. Manusia dianggap sebagai pencipta cara hidupnya sendiri sebagain keseluruhan, sehingga implikasi dari paham ini adalah kenyataan konkrit  yang merupakan titik pangkal ilmu pengetahuan yang tidak dilihat sebagai data yang perlu diverivikasi secara empiris atau diramalkan sesuai dengan hokum kebarangkalian.
Cara pendekatan positivisme tidak memadai sama sekali karena status ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memang sangat khusus dank arena keterasingan manusia di tengah-tengah dunia hasil ilmu, tehnik dan industry tak lagi dapat diatasi pemikiran teoritis dan kritis saja.
    Ilmu-ilmu social telah diperdebatkan oleh   Popper dan Adorno dimana Popper yang seorang ahli ilmu alam meminati gejala-gejala yang muncul dalam masyarakat berdasarkan pengalaman system politik dan totaliter yang memaksa selama perang dunia kedua. Popper melihat ideology dan utopi sebagai dua bentuk masyarakat tertutup yang membahayakan susunan masyarakat yang sehat. Sedangkan Adorno menentang teori-teori yang telah dikemukakan oleh Popper karena Adorno menekankan teorinya bahwa perbandingan dan harapan itu tidak mungkin. Jadi Popper menggunakan teori Ilmu Bebas nilai sedangkan Adorno menggunakan ilmu yang menilai.
    Adanya Kebenaran dalam Bidang ilmu-ilmu social  telah dikemukakan dimasa Dilthey dan Weber. Dia menggunakan istilah relativisme untuk menunjukkan anggapan mereka tentang Kebenaran. Secara umum sebenarnya tidak ada kebenaran tunggal yang tersedia bagi manusia dimana manusia tiada hentinya mencari serta mewujudkan kebenaran yang ditandai ruang dan waktu, secara konkret dalam masyarakat dan sejarah. Maka sejujurnya cara pendekatan kebenaran pada ilmu-ilmu alam pada dasarnya adalah pendekatan sesuatu yang terdapat di luar si pengenal.
    Masalah relativitas dalam ilmu-ilmu social ternyata sangat mempengaruhi cara kerja ilmu-ilmu yang ternta kurang diminati oleh Institut Penyelidikan Sosial Frankfurt. Hermeneutika artinya penafsiran ungkapan-ungkapan dan anggapan dari orang lain yang berbeda lingkungan social budanya merupakan penafsiran teks tertulis yang berasal dari lingkungan social dan historis yang berbeda dengan lingkungan dan dunia pembaca. Hermeneutik falsafa menurut Gadamer adalah menyelidiki latar belakang serta syarat-syarat yang tepat. Teori dan teknik tentang anggapan hermeneutic pada umumnya dipengaruhi oleh filsafat bahasa yang dilator belakangi fenomenologi dan eksistensialisme mengenai kesatuan antara isi pikiran dengan pengungkapannya. Pandangan Gadamer memiliki hubungan timbal balik dengan teori-teori dan teknik-teknik ahli tafsir kitab suci dan ajaran iman dewasa ini yang dipengaruhi oleh filsafat bahasa yang dilator belakang fenomenologi dan eksistensialisme mengenai kesatuan antara isi pikiran dengan pengungkapanya.
Menurut Popper ilmu-ilmu yang membentuk membentuk suatu dunia ke-3 yang berdaulat dan tak terikat subjek. Filsafat ilmu kemudian datang dengan maksud mendobrak citra ilmu yang kurang baik yang bercokol sebelumnya. Dengan berguru pada sejarah perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan diharapkan filsafat ilmu kian dekat dengan kenyataan ilmu pengetahuan yang sebenarnya.
Popper membedakan dunia ilmu dan dunia di luar ilmu.  Para penganut teori kritis tentang masyarakat selalu menekankan pada kekhususan ilmu-ilmu social sehingga filsafat dialektis bertitik pangkal pada perkembangan dialektis masyarakat berdasarkan ekonomi politis dan terarah kepadanya dalam tinjauan yang kritis. Mereka menolak adanya kebenaran atau totalitas yang bersifat mutlak. Filsafat Hermeneuti menganggap  para penganut filsafat sebagai tafsir atas kenyataan yang menekankan terwujudnya pengetahuan berdasarkan pengetahuan masa lampao yang termuat dalam tulisan kuno.
Ilmu pengetahuan di abad ke 20 menghadapkan seluruh umat manusia yang ada di permukaan bumi dengan beberapa permasalahan yang komplek seperti lingkaran setan yang sulit untuk ditembus, yang menyangkut segala ilmu pengetahuan dan teknologi.Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lagi semata-mata berkaitan dengan sesame ilmu pengetahuan, tetapi sudah menyangkut hubungan anrtar bangsa dan antar negara, bidang lingkungan, keamanan negara maupun kelestarian bumu dalam jangka panjang.
Ilmu pengetahuan masa yunani kuno sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu empiris, khususnya ilmu pengetahuan alam.Arietoteles adalah salah satu ilmuwan yang membuat rumusan-rumusan ilmu-ilmu pengetahuan dan membedakan theoria dengan praxis yang kemudian membedakan pengetahuan teoritis dan praktis. Pengetahuannyang telah dikemukakan adalah ilmu praktis dalam ketrampilan seperti beternak, bertani, berburu dan sebagainya. Selain teori praktis juga ada imu pengetahuan teoritis yang berfungsi mengatur perbuatan-perbuatan manusia selama hidup  seperti etika.
Setelah berabat-abat akhirnya dunia mau menerima keyakinan dan kepercayaan bahwa kemajuan yang dihasilkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan alam akan membawa masa depan yang semakin gemilang dan makmur, dan juga di masa modern ini sangat mempengaruhi dan mengubah manusia dan dunianya.
Pada awal perkembangan perubahan semua menganggap itu hal yang wajar dan pasti akan terjadi karena merupakan suatu bentuk tanggung jawab dari manusia sesuai dengan rencana Tuhan yang memerintahkan untuk memelihara dan menguasai bumi. Hampir dimana-mana kita bisa menyaksikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia yang semakin tidak terbendung dan memprihatinkan, contoh dalam dunia pertahanan atau militer, kedokteran (bayi tabung rekayasa genetika dan sebagainya). Dampak paling menyolok sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan alam dan teknologi adalah lingkungan yang semakin memprihatinkan,  kemiskinan yang semakin meluas serta kelaparan dimana-mana. Sedangkan dampak yang paling dalam adalah perubahan diri manusia sendiri menuju suatu keadaan yang tidak mungkin dikembalikan lagi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mau tidak mau pada akhirnya berhadapan dengan matra etis. Kerapkali para ilmuwan mengalami konflik batin sehubungan dengan dengan dampak dan penerapan dari hasil penelitian dan penemuannya. Konflik batin seperti ini mungkin sekali paling menekan para ahli genetika dan bio medika. Padahal apa yang paling mungkin untuk dilaksanakan belum tentu dengan sendirinya akan meningkatkan tarah kehidupan manusia di permukaan bumi.

0 komentar

Poskan Komentar