Advertise

Kamis, 20 September 2012

PTK BAHASA JAWA MEDIA FILM


 A. Latar Belakang
            Di dalam Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa 2009, pembelajaran Bahasa Jawa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan para peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, dengan tujuan agar bahasa dan kebudayaan Jawa sebagai bahasa daerah tetap terjaga kelestariannya. Selain itu, pembelajaran Bahasa Jawa juga diarahkan pada apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan Jawa yang banyak mengandung nilai-nilai budi pekerti. Agar siswa mampu berkomunikasi dengan baik, pembelajaran Bahasa Jawa diarahkan untuk membekali siswa terampil berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dengan etika yang benar. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, tidak dituntut lebih banyak untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa. Oleh sebab itu, penguasaan siswa terhadap unggah-ungguh bahasa Jawa (selanjutnya disingkat UUBJ) mutlak diperlukan dan harus mendapat perhatian lebih khusus dan lebih serius.
Proses pembelajaran bahasa Jawa harus berlangsung dalam kondisi serius, menantang, dan menyenangkan bagi siswa. Kreativitas siswa dalam pembelajaran harus dapat dimaksimalkan. Ekspresi siswa dalam pembelajaran harus lugas dan penuh inovatif, utamanya yang berkaitan dengan aktivitas siswa dalam mengaktualisasikan dirinya di berbagai konteks kegiatan, khususnya konteks berbicara sesuai dengan UUBJ.
            Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran UUBJ (khususnya ketrampilan berbicara) mengalami banyak kendala antara lain: (1) siswa belum terlatih menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan UUBJ, baik di sekolah, di rumah, dan lebih-lebih di masyarakat; (2) di lingkungan keluarga yang mestinya sebagai tempat pembelajaran bahasa ibu, orang tua kurang memberikan pembiasaan kepada anak untuk berbicara dengan bahasa Jawa; (3) teknik mengajar yang disajikan guru kurang menarik dan tidak sesuai dengan kemampuan siswa; (4) rendahnya pengetahuan dan kemampuan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran, misalnya pemanfaatan media film dalam proses pembelajaran UUBJ; (5) siswa sulit berbicara atau berkomunikasi mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasannya karena keterbatasan pengetahuannya tentang undha-usuk bahasa Jawa yang dianggap rumit.
Berbagai kendala dalam kegiatan pembelajaran UUBJ di atas, harus dicarikan solusinya sehingga kegiatan belajar mengajar utamanya pembelajaran UUBJ akan dapat mencapai sasaran seperti yang diamanatkan dalam kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa. Guru harus memahami kehendak siswanya dalam peningkatan berbagai ketrampilan dalam pembelajaran ini. Sejalan dengan hal itu Nurhadi (2004 : 73) berpendapat bahwa guru dituntut menyesuaikan diri terhadap gaya belajar siswa-siswinya. Salah satu upaya adalah dengan memanfaatkan media audio visual (film) agar siswa lebih antusias dalam mengikuti pelajaran khususnya pembelajaran UUBJ.
Sejarah  penggunaan  alat-alat  audio  visual  dalam  dunia  pendidikan bukanlah  hal  yang  baru,  melainkan  sama  tuanya  dengan  pendidikan  itu sendiri.  Kelebihan  dan  keampuhan  film  sebagai  alat  untuk mendidik  rakyat dapat  dibuktikan  dengan  kata-kata  Hitler  dan  Kepala  Staf  Angkatan Perangnya yang bernama Wilhelm Keitel ketika ada orang yang mananyakan kepada  Hitler  (1939) mengenai  senjata  yang  paling  ampuh  sehingga  Hitler mampu  menakhlukkan  beberapa  negara  dalam  waktu  singkat,  Hitler menjawab:  “Enam puluh  ribu proyektor yang kami miliki”. Pada  tahun 1945 setelah  kalah  perang,  Wilhelm  Keitel  berkata:  “Semua  telah  kami perhitungkan  dengan  sebaik-baiknya,  kecuali  kesanggupan  Amerika  Serikat melatih  rakyatnya  dengan  cepat  untuk  perang.  Kesalahan  kami  yang terutama  adalah  menganggap  enteng  kecepatan  kemahiran  mereka memanfaatkan media film untuk pendidikan”.
Efektifitas  penggunaan  media  film  untuk  mendidik  rakyat  dalam berbagai  segi  kehidupan  tampaknya  juga  sudah  disadari  betul  berbagai kalangan masyarakat. Menjamurnya sinetron  religi  Islam di berbagai stasiun televisi  merupakan  salah  satu  bukti  adanya  inovasi  para  ulama atau da’i  untuk melakukan  syiar  agama. Mereka  sadar  betul  bahwa  karena  berbagai  alasan kesibukan,  masyarakat  masa  kini  sudah  enggan menyempatkan diri datang ke majelis-majelis taklim untuk mendengarkan khotbah. Syiar agama yang dikemas dalam bentuk film yang  “sedikit”  didramatisir  di berbagai stasiun televisi tampaknya lebih mudah menyentuh hati nurani para umat tersebut,  dibanding hanya dengan  sekedar mendengarkan  kata-kata  dalam khotbah.
Tidak jauh berbeda dengan eksistensi budaya lokal, khususnya budaya Jawa.  Lagi-lagi  kaum  muda  dan  kaum  “modernis”  menggangap  bahwa aktivitas  nguri-uri  budaya:  ‘termasuk  menggunakan  bahasa  Jawa yang sesuai dengan unggah-ungguh basa’  dianggap kuno.  Dengan  demikian  wajar  bila  proses  transfer  budaya  Jawa  secara otomatis  perlahan-lahan  terputus  (terjadi  missing  link).  Mereka  tidak  lagi menyadari  bahwa  budaya  Jawa  merupakan  seteguk  ramuan  yang  sangat nikmat  untuk  dihayati  karena  didalamnya  terdapat  berbagai  unsur kebudayaan yang unik, kompleks, dan adiluhung. Akibatnya pergaulan kaum muda di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi “minim” tata krama dan unggah-ungguh. Ini dibuktikan dengan adanya keluhan ± 42 orang guru  bahasa  Jawa SMP di kabupaten Jombang, yang menyiratkan  rasa keprihatinannya  terhadap  penggunaan  UUBJ  bagi para siswa.  Siswa  sudah  jarang  dapat  dengan  fasih  menerapkan  ragam bahasa krama-ngoko dalam berbagai situasi. Fenomena  tersebut  nampaknya  mengundang  polemik  di  kalangan masyarakat
Keberadaan  pembelajaran bahasa  Jawa  sebagai  muatan  lokal  wajib  merupakan  suatu  tantangan. Kondisi siswa  yang  dihadapi  saat  ini  jauh  berbeda  dengan karakteristik siswa 10-15 tahun yang lalu. Siswa sudah banyak terkontaminasi berbagai  pola  kebudayaaan  yang  belum  tentu  sesuai  dengan  kepribadian bangsa sehingga agak sukar untuk menarik kembali ke suasana yang “njawani”. Karakteristik  inilah yang menjadi pijakan guru  untuk  mencari  media  yang  lebih  inovatif, menarik, dan dapat menumbuhkan minat belajar  sehingga mendukung keberhasilan proses belajar mengajar.
Media audio visual (berupa film) diharapkan akan lebih memikat bagi siswa dibandingkan dengan penggunaan  metode  ceramah  di  kelas.  Media  ini  juga  cocok  untuk menyadarkan sasaran (siswa) dan menarik minat siswa untuk lebih menyukai mata pelajaran bahasa Jawa terutama dalam pembelajaran UUBJ. Media audio-visul yang digunakan berupa  film (drama) berbahasa Jawa dalam bentuk VCD dan DVD.
B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas penulis rumuskan masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimanakah penggunaan media film yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang materi UUBJ pada siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno?
  2. Bagaimanakah prestasi belajar siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno dalam pembelajaran yang menggunakan menggunakan media film?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang penulis harapkan dari penelitian ini adalah :
1.          Mendeskripsikan bagaimana penggunaan media film yang dapat meningkatkan minat belajar siswa pada materi UUBJ pada siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno.
2.          Mendeskripsikan prestasi belajar siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno dalam pembelajaran yang menggunakan menggunakan media film.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini akan sangat berharga dan bermanfaat untuk pengelolaan pembelajaran, khususnya untuk guru mata pelajaran Bahasa Jawa dan umumnya untuk segenap unsur penyelenggara sekolah. 
      1.   Bagi guru :
a.       Guru akan memiliki gambaran variasi cara untuk menyajikan pembelajaran khusnya materi UUBJ.
b.      Guru dapat meningkatkan keterampilan melaksanakan inovasi pembelajarn dengan memanfaatkan media film.
c.       Guru dapat mengidentifikasi masalah pembelajaran yang dilakukannya sekaligus mencari solusinya seperti kajian ini.
d.      Guru dapat menyusun program peningkatan efektivitas pembelajaran Bahasa Jawa, khususnya aspek berbicara yang sesuai dengan UUBJ.
      2.   Bagi Siswa
a.       Siswa akan merasa lebih senang dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Jawa.
b.      Siswa akan semakin betah dan mantap dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Jawa.
c.       Meningkatkan prestasi belajar Bahasa Jawa khususnya materi pembelajaran UUBJ.
      3.   Bagi sekolah :
a.       Sekolah akan memiliki sumber daya manusia yang unggul dalam pembelajaran.
b.      Sekolah akan dapat memotivasi guru untuk melakukan pembelajaran yang bisa menyengakan.
c.       Sekolah akan berkembang dan lebih cepat mencapai visi dan misi.
      4.   Bagi dunia pendidikan
a.   Menambah wacana baru dalam proses belajar mengajar dengan memanfaatkan film sebagai media pembelajaran
b.   Sebagai acuan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya.

0 komentar

Poskan Komentar