Advertise

Kamis, 31 Januari 2013

UAS PAK IBUT



Jawablah soal-soal berikut langsung ke arah pertanyaan

1.      Apa yang saudara ketahui tentang Elaborasi pembelajaran? Berikan contoh sederhana tentang Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan Model Elaborasi.
Pembelajaran Elaborasi adalah pembelajaran yang menambahkan ide tambahan berdasarkan apa yang seseorang sudah ketahui sebelumnya . Elaborasi adalah mengasosiasikan item agar dapat diingat dengan sesuatu yang lain, seperti frase, adegan , pemandangan, tempat, atau cerita ]. Pembelajaran ini efektif digunakan apabila ide yang ditambahkan sesuai dengan penyimpulan. Implikasi dari strategi belajar ini adalah mendorong siswa untuk menyelami informasi itu sendiri, misalnya untuk menarik kesimpulan dan berspekulasi tentang implikasi yang mungkin. Anak-anak menggunakan prior knowledgenya sehingga ide baru dapat meluas, dengan demikian dapat menyimpan informasi lebih banyak daripada yang disajikan sebenarnya.
Pembelajaran dengan menggunakan  model Elaborasi:
a.      Penyajian kerangka isi.
Pembelajaran dimulai dengan penyajian kerangka isi: struktur yang memuat bagian-bagian yang paling penting dari bidang studi.
b.      Elaborasi tahap pertama.
Elaborasi tahap pertama adalah mengelaborasi tiap-tiap bagian yang ada dalam kerangka isi, mulai dari bagian yang terpenting. Elaborasi tiap-tiap bagian diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis yang hanya mencakup konstruk-konstruk yang baru saja diajarkan (pensintesis internal).
c.      Pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal.
Pada akhir elaborasi tahap pertama, diberikan rangkuman dan diikuti dengan pensintesis eksternal. Rangkuman berisi pengertian-pengertian singkat mengenai konstruk-konstruk yang diajarkan dalam elaborasi, dan pensintesis eksternal menunjukkan (a) hubungan-hubungan penting yang ada antar bagian yang telah dielaborasi, dan (b) hubungan antara bagian-bagian yang telah dielaborasi dengan kerangka isi.
d.      Elaborasi tahap kedua.
Setelah elaborasi tahap pertama berakhir dan diintegrasikan dengan kerangka isi, pembelajaran diteruskan ke elaborasi tahap kedua yang mengelaborasi bagian pada elaborasi tahap pertama dengan maksud membawa si-belajar pada tingkat kedalaman sebagaimana ditetapkan dalam tujuan pembelajaran. Seperti halnya dalam elaborasi tahap pertama, setiap elaborasi tahap kedua disertai rangkuman dan pensintesis internal.
e.      Pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal.
Pada akhir elaborasi tahap kedua, diberikan rang­kuman dan pensintesis eksternal, seperti pada elaborasi tahap pertama.
Setelah semua elaborasi tahap kedua disajikan, disintesiskan, dan diintegrasikan ke dalam kerangka isi, pola seperti ini akan berulang kembali untuk elaborasi tahap ketiga, dan seterusnya, sesuai dengan tingkat kedalaman yang ditetapkan oleh tujuan pembelajaran.
Pada tahap akhir pembelajaran, disajikan kembali kerangka isi untuk mensintesiskan keseluruhan isi bidang studi yang telah diajarkan.

2.      Bloom (1956) dan Gagne (1977) adalah dua di antara banyak tokoh yang telah berhasil mengembangkan taksonomi tujuan pembelajaran menurut versi masing-masing. Buatlah suatu matriks yang menggambarkan kedua taksonomi tujuan pembelajaran tersebut dan analisislah persamaan dan perbedaannya.
Analisis Persamaan dan Perbedaan Taksonomi Bloom (1956) dan Gagne (1977)
Persamaan
Perbedaan
Bloom (1956)
Gagne (1977)
1. Kedua taksonomi tersebut membahas tentang kawasan kognitif.
2. Kedua taksonomi tersebut membahas ketrampilan intelektual.
3. Kedua taksonomi tersebut merumuskan tingkat ketrampilan atau tingkat kemampuan dari yang paling mudah ke tingkat yang kompleks
Mengelompokkan tujuan pembelajaran kognitif dalam 6 kategori : pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi

Pengelompokkan tujuan pembelajaran kognitif bersifat hirarkhis


Kategori sikap tidak dibahas secara langsung, tetapi secara tersirat.
Mengelompokkan tujuan pembelajaran kognitif kedalam 5 kategori : informasi verbal, ketrampilan intelektual, strategi kognitif, motorik dan sikap
Mengelompokkan tujuan pembelajaran tidak bersifat hirarkhis, tetapi berlandaskan pada teori belajar behaviorisme dan kognitifisme
Kategori tidak dibahas secara jelas





3.      Jelaskan taxonomi tujuan pembelajaran kognitif, afektif dan psikomotorik dengan diberi contoh rumusan tujuannya kognitif (C1-C6), afektif (A1-A5), dan Psikomotorik (P1-P6) sesuai bidang studi saudara!
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi.[2] Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi
Tujuan rumusan kognitif (C1 – C6)
a. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya.
Contoh: Salah satu contoh hasil belajar kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat 
Sebutkan prosedur untuk menggambarkan diagram Evan
                b. Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat.
Contoh:
 Mengingat lima penghambat korosi, V, W, X, Y, Z, mengidentifikasi yang passivators?
C.Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalamsesuatu yang baru dan konkret.
Contoh : Pilih campuran logam yang dapat digabungkan dengan titanium dalam aplikasi air laut.
d.   Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya.
Contoh: Dari serangkaian gambar dan deskripsi konteks identifikasi bentuk-bentuk korosi yang terlibatdalam kegagalan?

e.    Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupak.    
Contoh: Desain skenario pengujian untuk menilai kerentanan campuran logam untuk digunakan dalam lingkungan tertentu?
f.
Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide,
Contoh : Menggunakan depresiasi nilai lurus, tentukan paduan dua logam tembaga-nikel untuk desain penukar panas!

Tujuan rumusan Afektif  (A1 – A5):
1)     Penerimaan (receiving)
Hasil belajar pada level bergerak dari kesadaran yang sederhana sampai pada perhatian    tertentu.
Contoh:
2)     Partisipasi (responding)
Hasil belajar ada level ini menekankan pada kesiapan dalam memberi respon, seperti membaca materi yang ditugaskan, kesukarelaan dalam merespon atau merasa senang.
3)     Penetuan Sikap (value)
Hasil belajar pada level ini-berkenaan dengan perilaku yang konsisten dan stabil dalam membuat nilai-dapat diidentifikasikan secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, kondisi ini sering disebut dengan istilah sikap dan penghargaan.
4)     Organisasi (organization)
 Hasil belajar untuk level ini berkenaan dengan konseptualisasi nilai (seperti mengenal tanggung jawab setiap individu untuk meningkatkan hubungan kemanusiaan) atau pengorganisasian sistem nilai (seperti mengembangkan rencana pekerjaan yang dapat memuaskan kebutuhan kehidupan ekonomi dan pengabdian masarakat).
5)     Pembentukan Pola (characterization by a value or a value complex)
Hasil belajar pada level ini meliputi rentang aktivitas yang banyak, tetapi yang pokok dapat terlihat pada perilaku yang sudah menjadi tipikal atau karakternya. Dalam LO dikenal dengan pola umum tentang kemampuan menyesuaikan (pribadi, masyarakat, dan emosi).

Tujuan rumusan psikomotorik
1.      Persepsi (perception)
Level ini berkenaan dengan penggunaan organ indra untuk menagkap isyarat yang membimbing aktivitas gerak. Katagori itu bergerak dari stimulus sensori (kesadaran terhadap stimulus) melalui pemilihan isyarat (pemilihan tugas yang relevan) hingga penerjemahan dari persepsi iyarat ke tindakan)
2.      Kesiapan (set)
Level kesiapan ini menunjukkan pada kesiapan untuk melakukan tindakan tertentu. Katagori ini meliputi perangkat mental (kesiapan mental untuk bertindak), perangkat emosi (kesediaan bertindak). Persepsi terhadap isyarat menempati prasyarat yang penting untuk level ini.
3.      Gerakan Terbimbing (guided response)
Level gerakan terbimbing merupakan tahapan awal dalam mempelajari ketrampilan yang kompleks. Hal itu meliputi peniruan (mengulang suatu perbutan yang telah didemonstrasikan oleh instruktur) dan trail and error (menggunakan pendekatan ragam respon untuk mengidentifikasikan respon yang tepat). Kelayakan kerja dinilai oleh instruktur atau oleh seperangkat kriteria yang cocok.
4.      Gerakan Terbiasa (mechanism)
Level gerakan ini berkenaan dengan kinerja dimana respon mahasiswa telah menjadi terbiasa dan gerakan-gerakan dilakukan dengan penuh keyakinan dan kecakapan. Hasil belajar level ini berkenaan dengan ketrampilan berbagai tipe kinerja, tetapi tingkat kompleksitas gerakannya lebih rendah dari level berikutnya.
5.      Gerakan Kompleks (complex overt response)
Level ini merupakan gerakan yang sangat terampil dengan pola-pola gerakan yang sangat kompleks. Keahliannya terindikasi dengan gerakan yang cepat, lancar, akurat, dan menghabiskan energi yang minimum. Katagori ini meliputi kemantapan gerakan (gerakan tanpa keraguan) dan gerakan otomatik (gerakan dilakukan dengan rileks dan kontrol otot yang bagus).
6.      Gerakan Pola Penyesuaian (adaptation)
Level keenam ini berkenaan dengan ketrampilan yang dikembangkan dengan baik sehingga seorang dapat memodivikasi pola-pola gerakan un tuk menyesuaikan tuntutan tertentu atau situasi tertentu.
7.      Kreativitas (origination)
Level terakhir ini menunjuk kepada penciptaan pola-pola gerakan baru untuk menyesuaikan situasi tertentu atau problem khusus. Hasil belajar untuk level ini menekankan kreativitas berdasarkan pada ketrampilan yang sangat hebat.

4.   Menurut sauadara pendidikan karakter itu jika dikaitkan dengan taxonomi tujuan pembelajaran dominan untuk mencapai tujuan pada ranah apa? Dan mengapa ranah ini dianggap penting?
Dengan mengacu pada taksonomi Bloom, maka pendidikan karakter pada dasarnya termasuk pendidikan pada ranah afektif. Sebagaimana nasib pendidikan afektif selama ini yang hanya berhenti pada retorika saja, maka pendidikan karakter ke depan juga akan menghadapi tantangan yang tidak ringan, baik tantangan yang bersifat internal maupun eksternal.
Tantangan yang bersifat internal dapat berupa: orientasi pendidikan kita selama ini yang masih mengutamakan aspek keberhasilan yang bersifat kognitif, praksis pendidikan yang masih banyak mengacu filsafat rasionalisme yang memberikan peranan yang sangat penting kepada kemampuan akal budi (otak) manusia, kemampuan dan karakter guru yang belum mendukung, serta budaya dan kultur sekolah yang kurang mendukung. Sementara itu, tantangan yang bersifat eksternal antara lain meliputi: pengaruh globalisasi, perkembangan sosial masyarakat, dan pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

5.   Satu langkah penting dalam merancang pembelajaran adalah membuat analisis Kompetensi Standart agar diketahui kemampuan-kemampuan  bawahan (subordinate skill) yang tercakup dalam rumusan Kompetensi Standart tersebut. Coba deskripsikan apa gunanya hasil analisis tersebut bagi perancang, guru, dan siswa.
            Guna Analisis bagi Perancang:
Untuk mengetahui Standar Kompetensi Guru ,sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien  serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya.  
    Guna Analisis bagi Guru:
Sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi,  penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi,  pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.
Guna analisis bagi siswa:
·        penempatan siswa secara tepat,
·        pemberian umpan balik,
·        diagnosis kesulitan belajar, dan
·        menentukan kelulusan (keberhasilan) siswa
·        tujuan penilai bukan hanya guru, namun dapat juga teman

0 komentar

Poskan Komentar