Advertise

Selasa, 12 Oktober 2010

MEMAHAMI KEBERAGAMAN KEMAMPUAN PESERTA DIDIK

Ternyata kemampuan anak itu berbeda
Hal ini sejalan dengan teori bahwa pada dasarnya ada 7(tujuh) kecerdasan yang dimiliki manusia, diantaranya meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematik, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal , kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal (Gardner, 1983).
Berbicara kemampuan yang dimiliki seseorang tak dapat dilepaskan dari kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Di mana seseorang disebut sukses, apabila hidup dengan harta berlimpah , memiliki fasilitas lengkap untuk melakukan aktivitas apa saja yang disukai. Namun ukuran sukses bagi seorang siswa adalah bila nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasionalnya berada diatas kriteria . Memang ukuran idealnya sukses bukan hanya diukur dengan nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional saja, akan tetapi juga karena kemampuan mengelola emosi dan mental spiritualnya.Tak dapat disangkal kecerdasan intelektual dapat menentukan kelulusan seorang siswa, tetapi bila tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kegagalan, tetap saja berbahaya bagi kelangsungan hidupnya di masa depan. Belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah persiapan mental spiritualnya. Belajar dan berdoa.
Sebagai pendidik yang kebetulan bukan termasuk penyaji materi pelajaran yang di ujikan secara nasional, penting kiranya mengetahui bakat siswa yang memiliki kelemahan dalam salah satu pelajaran yang diujikan secara nasional, akan tetapi istimewa untuk salah satu pelajaran non nas.
Letak pentingnya adalah, perhatian guru terhadap siswa sangat mempengaruhi motivasi pribadi siswa. Terutama bila siswa merasa respek dengan guru tadi. Mengingat dalam keseharian siswa perlu tokoh yang dijadikan pola anutan untuk mempersiapkan masa depannya. 
Siswa perlu mengetahui, bahwa dirinya sangatlah berarti di mata Sang Pencipta.
Menyadarkan siswa akan potensi dirinya, diperlukan kearifan pendidik. Pendidik ataupun orangtua sebagai pendidik pertama dan utama, perlu melakukan upaya yang dapat mengembangkan potensi siswa secara maksimal. Bakat yang dimiliki anak perlu kita cermati dengan jeli dan penuh perhatian. Siswa sebagai pribadi yang unik, dengan bakat dan minat tentu berbeda satu dengan yang lain. Maksudnya kita layak memperhatikan keunikan tadi, serta tidak menganggapnya sebagai kertas putih yang siap ditulisi apasaja, apalagi menganggapnya sebagai bejana kosong yang siap untuk diisi. Di era serba cepat ini, teori tadi perlu dipikirkan lagi. 
Upaya positif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa adalah hal yang mutlak.Meskipun terkadang potensi siswa yang kita kembangkan tidak selalu berupa mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Tentunya, hal ini sudah disadari oleh para pakar pendidikan. Kalaupun materi ujian nasional tetap dilaksanakan, tentu tidak lebih hanya sebagai tolok ukur secara nasional. Namun parahnya ujian nasional itu juga menentukan gengsi sekolah. Sehingga jangan heran bila segenap daya dan dana diupayakan untuk mengeksploitasi siswa agar mendapatkan nilai ujian nasional semaksimal mungkin. 
Masih lumayan, bila saja sekolah juga memperhatikan kegiatan non akademik yang berupa kegiatan pengembangan potensi siswa, bagaimana bila tidak?
Sebagai contoh pengalaman empiris sepuluh tahun yang lalu ada seorang siswa yang membuat penulis tertegun karena hafal dengan ciri tembang macapat untuk mata pelajaran Bahasa Jawa. Tertegun, karena ada sebelas jenis tembang macapat (asmaradana, dandhang gula, durma, gambuh, kinanthi, maskumambang, magatruh, mijil, pangkur, pucung, sinom) dengan paugeran guru lagu, guru wilangan bahkan guru gatra yang berbeda. Pernah juga penulis tertawa karena ada seorang siswa berasal dari suku Sunda yang merayu penulis untuk memberikan les Bahasa Jawa. Bagaimana tidak tertawa melihat kenyataan ini, karena penulis tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengajar Bahasa Jawa. Tugas ini penulis terima, hanya karena banyak teman guru yang tidak mau mengajar bahasa Jawa, karena kesulitan menggunakan pengantar bahasa Jawa. Kalaupun pilihan tugas jatuh kepada penulis adalah karena lulusan Sekolah Pendidikan Guru, yang mendapat pelajaran bahasa Jawa lebih banyak daripada lulusan SMA. Disamping itu juga untuk memenuhi tuntutan jam mengajar . Di lain kesempatan seusai mengajar pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, seorang siswa meminta penulis menjelaskan tentang peristiwa lahirnya Supersemar. Pada masa itu membicarakan peristiwa lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret haruslah seperti dalam buku teks. Ada alasan politis yang tidak mungkin dijelaskan.
Beberapa contoh di atas membuat penulis heran,mengingat mata pelajaran yang penulis berikan bukanlah pelajaran yang diujikan secara nasional. Beberapa contoh di atas sengaja penulis tampilkan karena saat ini mereka sudah terjun di masyarakat dengan pekerjaan yang diperhitungkan. Untuk situasi yang dilanda krisis seperti sekarang ini, mereka tampak tidak tergoyahkan dalam bekerja, bahkan mereka nampak sangat percaya diri. Sekali lagi ,baru berdasarkan pengalaman empiris saja, siswa yang memiliki nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional baik, biasanya nilai pelajaran non nas juga baik. Bisa juga siswa yang memiliki satu keunggulan dalam salah satu mata pelajaran non nas , akan menjadi anak yang percaya diri. Hal ini akan memotivasi siswa yang bersangkutan untuk lebih giat belajar mata pelajaran nas. Sehingga pengurangan jam mata pelajaran non nas apalagi sampai menghapusnya dari kegiatan tatap muka menjelang ujian nasional merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Nasib baik , yang oleh orang dikatakan sebagai kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional.Meski tidak dapat dipungkiri , kecerdasan logis matematis sangat berhubungan dengan daya nalar seseorang. Gardner(1983) berpendapat“Siswa yang memiliki dan mengembangkan kecerdasan linguistik dan logis matematis dijamin pasti akan berhasil dalam situasi sekolah tradisional” 
Masalahnya bagaimana kalau sekarang mendapati siswa yang dikategorikan ke dalam bimbingan kelas khusus karena mengalami kesulitan dalam menyerap pelajaran matematika, bahasa inggris atau IPA , malah tidak ikut bimbingan?
Tidakkah mereka menyadari masa depan yang dipersiapkan Tuhan untuk mereka, bukanlah sesuatu yang dapat diambil dengan gratis. Melainkan harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh untuk meraihnya. Bertanya, menjelaskan dan kreatif dalam mengerjakan tugas pelajaran non nas, bukankah ini kecerdasanyang terpancar?
Sadarkah bapak dan ibu guru akan hal ini?
Karena bila siswa mendapatkan penghargaan sesuai potensi dirinya yang kebetulan bukan pelajaran nas, maka siswa tersebut akan menjadi percaya diri. Serta mantab dalam mempersiapkan masa depannya menghadapi tantangan global, dengan cara belajar sungguh sungguh. Adakah ini penting?

Penulis : Dra.Endang Prapti S.A. (Guru SMP Negeri 1 Turen)

0 komentar

Poskan Komentar