Advertise

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi.

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi..

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi.

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi.

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi..

Kamis, 31 Januari 2013

UAS PAK IBUT



Jawablah soal-soal berikut langsung ke arah pertanyaan

1.      Apa yang saudara ketahui tentang Elaborasi pembelajaran? Berikan contoh sederhana tentang Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan Model Elaborasi.
Pembelajaran Elaborasi adalah pembelajaran yang menambahkan ide tambahan berdasarkan apa yang seseorang sudah ketahui sebelumnya . Elaborasi adalah mengasosiasikan item agar dapat diingat dengan sesuatu yang lain, seperti frase, adegan , pemandangan, tempat, atau cerita ]. Pembelajaran ini efektif digunakan apabila ide yang ditambahkan sesuai dengan penyimpulan. Implikasi dari strategi belajar ini adalah mendorong siswa untuk menyelami informasi itu sendiri, misalnya untuk menarik kesimpulan dan berspekulasi tentang implikasi yang mungkin. Anak-anak menggunakan prior knowledgenya sehingga ide baru dapat meluas, dengan demikian dapat menyimpan informasi lebih banyak daripada yang disajikan sebenarnya.
Pembelajaran dengan menggunakan  model Elaborasi:
a.      Penyajian kerangka isi.
Pembelajaran dimulai dengan penyajian kerangka isi: struktur yang memuat bagian-bagian yang paling penting dari bidang studi.
b.      Elaborasi tahap pertama.
Elaborasi tahap pertama adalah mengelaborasi tiap-tiap bagian yang ada dalam kerangka isi, mulai dari bagian yang terpenting. Elaborasi tiap-tiap bagian diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis yang hanya mencakup konstruk-konstruk yang baru saja diajarkan (pensintesis internal).
c.      Pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal.
Pada akhir elaborasi tahap pertama, diberikan rangkuman dan diikuti dengan pensintesis eksternal. Rangkuman berisi pengertian-pengertian singkat mengenai konstruk-konstruk yang diajarkan dalam elaborasi, dan pensintesis eksternal menunjukkan (a) hubungan-hubungan penting yang ada antar bagian yang telah dielaborasi, dan (b) hubungan antara bagian-bagian yang telah dielaborasi dengan kerangka isi.
d.      Elaborasi tahap kedua.
Setelah elaborasi tahap pertama berakhir dan diintegrasikan dengan kerangka isi, pembelajaran diteruskan ke elaborasi tahap kedua yang mengelaborasi bagian pada elaborasi tahap pertama dengan maksud membawa si-belajar pada tingkat kedalaman sebagaimana ditetapkan dalam tujuan pembelajaran. Seperti halnya dalam elaborasi tahap pertama, setiap elaborasi tahap kedua disertai rangkuman dan pensintesis internal.
e.      Pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal.
Pada akhir elaborasi tahap kedua, diberikan rang­kuman dan pensintesis eksternal, seperti pada elaborasi tahap pertama.
Setelah semua elaborasi tahap kedua disajikan, disintesiskan, dan diintegrasikan ke dalam kerangka isi, pola seperti ini akan berulang kembali untuk elaborasi tahap ketiga, dan seterusnya, sesuai dengan tingkat kedalaman yang ditetapkan oleh tujuan pembelajaran.
Pada tahap akhir pembelajaran, disajikan kembali kerangka isi untuk mensintesiskan keseluruhan isi bidang studi yang telah diajarkan.

2.      Bloom (1956) dan Gagne (1977) adalah dua di antara banyak tokoh yang telah berhasil mengembangkan taksonomi tujuan pembelajaran menurut versi masing-masing. Buatlah suatu matriks yang menggambarkan kedua taksonomi tujuan pembelajaran tersebut dan analisislah persamaan dan perbedaannya.
Analisis Persamaan dan Perbedaan Taksonomi Bloom (1956) dan Gagne (1977)
Persamaan
Perbedaan
Bloom (1956)
Gagne (1977)
1. Kedua taksonomi tersebut membahas tentang kawasan kognitif.
2. Kedua taksonomi tersebut membahas ketrampilan intelektual.
3. Kedua taksonomi tersebut merumuskan tingkat ketrampilan atau tingkat kemampuan dari yang paling mudah ke tingkat yang kompleks
Mengelompokkan tujuan pembelajaran kognitif dalam 6 kategori : pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi

Pengelompokkan tujuan pembelajaran kognitif bersifat hirarkhis


Kategori sikap tidak dibahas secara langsung, tetapi secara tersirat.
Mengelompokkan tujuan pembelajaran kognitif kedalam 5 kategori : informasi verbal, ketrampilan intelektual, strategi kognitif, motorik dan sikap
Mengelompokkan tujuan pembelajaran tidak bersifat hirarkhis, tetapi berlandaskan pada teori belajar behaviorisme dan kognitifisme
Kategori tidak dibahas secara jelas





3.      Jelaskan taxonomi tujuan pembelajaran kognitif, afektif dan psikomotorik dengan diberi contoh rumusan tujuannya kognitif (C1-C6), afektif (A1-A5), dan Psikomotorik (P1-P6) sesuai bidang studi saudara!
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi.[2] Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi
Tujuan rumusan kognitif (C1 – C6)
a. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya.
Contoh: Salah satu contoh hasil belajar kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat 
Sebutkan prosedur untuk menggambarkan diagram Evan
                b. Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat.
Contoh:
 Mengingat lima penghambat korosi, V, W, X, Y, Z, mengidentifikasi yang passivators?
C.Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalamsesuatu yang baru dan konkret.
Contoh : Pilih campuran logam yang dapat digabungkan dengan titanium dalam aplikasi air laut.
d.   Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya.
Contoh: Dari serangkaian gambar dan deskripsi konteks identifikasi bentuk-bentuk korosi yang terlibatdalam kegagalan?

e.    Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupak.    
Contoh: Desain skenario pengujian untuk menilai kerentanan campuran logam untuk digunakan dalam lingkungan tertentu?
f.
Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide,
Contoh : Menggunakan depresiasi nilai lurus, tentukan paduan dua logam tembaga-nikel untuk desain penukar panas!

Tujuan rumusan Afektif  (A1 – A5):
1)     Penerimaan (receiving)
Hasil belajar pada level bergerak dari kesadaran yang sederhana sampai pada perhatian    tertentu.
Contoh:
2)     Partisipasi (responding)
Hasil belajar ada level ini menekankan pada kesiapan dalam memberi respon, seperti membaca materi yang ditugaskan, kesukarelaan dalam merespon atau merasa senang.
3)     Penetuan Sikap (value)
Hasil belajar pada level ini-berkenaan dengan perilaku yang konsisten dan stabil dalam membuat nilai-dapat diidentifikasikan secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, kondisi ini sering disebut dengan istilah sikap dan penghargaan.
4)     Organisasi (organization)
 Hasil belajar untuk level ini berkenaan dengan konseptualisasi nilai (seperti mengenal tanggung jawab setiap individu untuk meningkatkan hubungan kemanusiaan) atau pengorganisasian sistem nilai (seperti mengembangkan rencana pekerjaan yang dapat memuaskan kebutuhan kehidupan ekonomi dan pengabdian masarakat).
5)     Pembentukan Pola (characterization by a value or a value complex)
Hasil belajar pada level ini meliputi rentang aktivitas yang banyak, tetapi yang pokok dapat terlihat pada perilaku yang sudah menjadi tipikal atau karakternya. Dalam LO dikenal dengan pola umum tentang kemampuan menyesuaikan (pribadi, masyarakat, dan emosi).

Tujuan rumusan psikomotorik
1.      Persepsi (perception)
Level ini berkenaan dengan penggunaan organ indra untuk menagkap isyarat yang membimbing aktivitas gerak. Katagori itu bergerak dari stimulus sensori (kesadaran terhadap stimulus) melalui pemilihan isyarat (pemilihan tugas yang relevan) hingga penerjemahan dari persepsi iyarat ke tindakan)
2.      Kesiapan (set)
Level kesiapan ini menunjukkan pada kesiapan untuk melakukan tindakan tertentu. Katagori ini meliputi perangkat mental (kesiapan mental untuk bertindak), perangkat emosi (kesediaan bertindak). Persepsi terhadap isyarat menempati prasyarat yang penting untuk level ini.
3.      Gerakan Terbimbing (guided response)
Level gerakan terbimbing merupakan tahapan awal dalam mempelajari ketrampilan yang kompleks. Hal itu meliputi peniruan (mengulang suatu perbutan yang telah didemonstrasikan oleh instruktur) dan trail and error (menggunakan pendekatan ragam respon untuk mengidentifikasikan respon yang tepat). Kelayakan kerja dinilai oleh instruktur atau oleh seperangkat kriteria yang cocok.
4.      Gerakan Terbiasa (mechanism)
Level gerakan ini berkenaan dengan kinerja dimana respon mahasiswa telah menjadi terbiasa dan gerakan-gerakan dilakukan dengan penuh keyakinan dan kecakapan. Hasil belajar level ini berkenaan dengan ketrampilan berbagai tipe kinerja, tetapi tingkat kompleksitas gerakannya lebih rendah dari level berikutnya.
5.      Gerakan Kompleks (complex overt response)
Level ini merupakan gerakan yang sangat terampil dengan pola-pola gerakan yang sangat kompleks. Keahliannya terindikasi dengan gerakan yang cepat, lancar, akurat, dan menghabiskan energi yang minimum. Katagori ini meliputi kemantapan gerakan (gerakan tanpa keraguan) dan gerakan otomatik (gerakan dilakukan dengan rileks dan kontrol otot yang bagus).
6.      Gerakan Pola Penyesuaian (adaptation)
Level keenam ini berkenaan dengan ketrampilan yang dikembangkan dengan baik sehingga seorang dapat memodivikasi pola-pola gerakan un tuk menyesuaikan tuntutan tertentu atau situasi tertentu.
7.      Kreativitas (origination)
Level terakhir ini menunjuk kepada penciptaan pola-pola gerakan baru untuk menyesuaikan situasi tertentu atau problem khusus. Hasil belajar untuk level ini menekankan kreativitas berdasarkan pada ketrampilan yang sangat hebat.

4.   Menurut sauadara pendidikan karakter itu jika dikaitkan dengan taxonomi tujuan pembelajaran dominan untuk mencapai tujuan pada ranah apa? Dan mengapa ranah ini dianggap penting?
Dengan mengacu pada taksonomi Bloom, maka pendidikan karakter pada dasarnya termasuk pendidikan pada ranah afektif. Sebagaimana nasib pendidikan afektif selama ini yang hanya berhenti pada retorika saja, maka pendidikan karakter ke depan juga akan menghadapi tantangan yang tidak ringan, baik tantangan yang bersifat internal maupun eksternal.
Tantangan yang bersifat internal dapat berupa: orientasi pendidikan kita selama ini yang masih mengutamakan aspek keberhasilan yang bersifat kognitif, praksis pendidikan yang masih banyak mengacu filsafat rasionalisme yang memberikan peranan yang sangat penting kepada kemampuan akal budi (otak) manusia, kemampuan dan karakter guru yang belum mendukung, serta budaya dan kultur sekolah yang kurang mendukung. Sementara itu, tantangan yang bersifat eksternal antara lain meliputi: pengaruh globalisasi, perkembangan sosial masyarakat, dan pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

5.   Satu langkah penting dalam merancang pembelajaran adalah membuat analisis Kompetensi Standart agar diketahui kemampuan-kemampuan  bawahan (subordinate skill) yang tercakup dalam rumusan Kompetensi Standart tersebut. Coba deskripsikan apa gunanya hasil analisis tersebut bagi perancang, guru, dan siswa.
            Guna Analisis bagi Perancang:
Untuk mengetahui Standar Kompetensi Guru ,sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien  serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya.  
    Guna Analisis bagi Guru:
Sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi,  penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi,  pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.
Guna analisis bagi siswa:
·        penempatan siswa secara tepat,
·        pemberian umpan balik,
·        diagnosis kesulitan belajar, dan
·        menentukan kelulusan (keberhasilan) siswa
·        tujuan penilai bukan hanya guru, namun dapat juga teman

Rabu, 30 Januari 2013

POS UN Tahun Pelajaran 2012/2013

PROSEDUR OPERASI STANDAR



PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH, SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA, SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH, SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA, SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN, SERTA PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A/ULA, PROGRAM PAKET B/WUSTHA, PROGRAM PAKET , DAN PROGRAM PAKET C KEJURUAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Senin, 26 November 2012

TUGAS TIK Kelas 9 Semester Genap

Membuat presentasi materi TIK menggunakan Power point atau menggunakan Flip Book Maker, download software flipbook maker KLIK DISINI

Sabtu, 22 September 2012

Kantung Semar

Selain bunga bangkai, ada tumbuhan lain yang juga memakan serangga.Tumbuhan tersebut adalah kantung semar.

Di habitat aslinya, tumbuhan ini hidup di daerah rawa yang miskin akan kandungan mineral nitrogen.
Untuk memenuhi kebutuhan nitrogen, kantung semar memperolehnya dari serangga.
Bagian bunga kantung semar mengeluarkan madu untuk menarik perhatian serangga. Selain itu,pada salah satu daun kantung semar, berubah menjadi berbentuk kantung dengan warna yang mencolok perhatian serangga untuk hinggap.
Pada bagian dalam kantung ini terdapat lapisan yang lengket. Jika ada serangga yang hinggap pada kantung ini maka akan terpeleset ke dalam kantung dan tidak dapat keluar lagi.
Serangga tersebut dicerna oleh kantung semar untuk memenuhi kebutuhan nitrogen.

Rantai Makanan

sumber : http://e-smartschool.co.id


Ada dua tipe dasar rantai makanan: 
  1. Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalnya: tumbuhan-herbivora-carnivora.
  2. Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati mikroorganisme (detrivora = organisme pemakan sisa) predator.
Macam-macam rantai makanan
Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit. 
  1. Rantai Pemangsa
  2. Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
  3. Rantai Parasit  
  4. Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.
  5. Rantai Saprofit  
  6. Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya sehingga membentuk faring-faring makanan. 
Kumpulan dari rantai makanan nantinya akan menjadi sebuah jaring, yang sering disebut dengan jaring-jaring makanan.

Pada ekosistem, setiap organisme mempunyai suatu peranan, ada yang berperan sebagai produsen, konsumen ataupun dekomposer. Produsen adalah penghasil makanan untuk makhluk hidup sedangkan konsumen adalah pemakan produsen. Produsen terdiri dari organisme-organisme berklorofil (autotrof) yang mampu memproduksi zat-zat organik dari zat-zat anorganik (melalui fotosintesis). Zat-zat organik ini kemudian dimanfaatkan oleh organisme-organisme heterotrof (manusia dan hewan) yang berperan sebagai konsumen.

Sebagai konsumen, hewan ada yang memakan produsen secara langsung, tetapi ada pula yang mendapat makanan secara tidak langsung dari produsen dengan memakan konsumen lainnya. Karenanya konsumen dibedakan menjadi beberapa macam yaitu konsumen I, konsumen II, dan seterusnya hingga konsumen puncak. Konsumen II, III, dan seterusnya tidak memakan produsen secara langsung tetapi tetap tergantung pada produsen, karena sumber makanan konsumen I adalah produsen. Peranan makan dan dimakan di dalam ekosistem akan membentuk rantai makanan bahkan jaring-jaring makanan. Perhatikan contoh sebuah rantai makanan ini: daun berwarna hijau (Produsen) --> ulat (Konsumen I) --> ayam (Konsumen II) --> musang (Konsumen III) --> macan (Konsumen IV/Puncak).

...to be continue...

Penemu Blackberry

sumber : http://e-smartschool.co.id

Mike Lazaridis (48 tahun) adalah seorang pengusaha sukses. Pada saat ini, oleh media cetak dan internet, ia dianggap sebagai salah satu orang paling penting dan berpengaruh bagi masyarakat dunia. Alasannya: ia penemu BlackBerry. Bersama dengan berbagai situs jaringan sosial, BlackBerry mampu mengubah pola/kebiasaan komunikasi masyarakat dunia.


Tahun 1979, Lazaridis memutuskan kuliah di Universitas Waterloo jurusan Electrical Engineering bidang ilmu komputer. Saat menjadi mahasiswa, dia mendapat kontrak 500.000 dollar dari General Motors (GM) untuk membangun display kontrol jaringan komputer. Dari dana kontrak dengan GM itu, ditambah pinjaman 15.000 dollar dari orangtuanya, Lazaridis yang masih mahasiswa mendirikan perusahaan bernama Research in Motion (RIM). Dia keluar dari universitas dua bulan sebelum lulus. RIM bergerak di bidang teknologi barcode untuk film. Lambat laun, RIM merambah ke wireless dan tahun 1999 memperkenalkan BlackBerry.
Hal yang patut kita tiru, biarpun sudah sukses, Lazaridis tetap rendah hati dan tidak cepat puas. Ia tetap banyak belajar dan selalu melakukan riset. Maka tidak heran, ia tidak "hanya" menjadi seorang ahli teknologi. Dia juga menguasai manajemen, pemasaran, dan strategi invasi produk ke penjuru dunia! Luar biasa!

Semoga ada siswa siswa saya yang sesukses beliau ini... AMIN.

Kamis, 20 September 2012

PTK BAHASA JAWA MEDIA FILM


 A. Latar Belakang
            Di dalam Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa 2009, pembelajaran Bahasa Jawa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan para peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, dengan tujuan agar bahasa dan kebudayaan Jawa sebagai bahasa daerah tetap terjaga kelestariannya. Selain itu, pembelajaran Bahasa Jawa juga diarahkan pada apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan Jawa yang banyak mengandung nilai-nilai budi pekerti. Agar siswa mampu berkomunikasi dengan baik, pembelajaran Bahasa Jawa diarahkan untuk membekali siswa terampil berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dengan etika yang benar. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, tidak dituntut lebih banyak untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa. Oleh sebab itu, penguasaan siswa terhadap unggah-ungguh bahasa Jawa (selanjutnya disingkat UUBJ) mutlak diperlukan dan harus mendapat perhatian lebih khusus dan lebih serius.
Proses pembelajaran bahasa Jawa harus berlangsung dalam kondisi serius, menantang, dan menyenangkan bagi siswa. Kreativitas siswa dalam pembelajaran harus dapat dimaksimalkan. Ekspresi siswa dalam pembelajaran harus lugas dan penuh inovatif, utamanya yang berkaitan dengan aktivitas siswa dalam mengaktualisasikan dirinya di berbagai konteks kegiatan, khususnya konteks berbicara sesuai dengan UUBJ.
            Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran UUBJ (khususnya ketrampilan berbicara) mengalami banyak kendala antara lain: (1) siswa belum terlatih menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan UUBJ, baik di sekolah, di rumah, dan lebih-lebih di masyarakat; (2) di lingkungan keluarga yang mestinya sebagai tempat pembelajaran bahasa ibu, orang tua kurang memberikan pembiasaan kepada anak untuk berbicara dengan bahasa Jawa; (3) teknik mengajar yang disajikan guru kurang menarik dan tidak sesuai dengan kemampuan siswa; (4) rendahnya pengetahuan dan kemampuan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran, misalnya pemanfaatan media film dalam proses pembelajaran UUBJ; (5) siswa sulit berbicara atau berkomunikasi mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasannya karena keterbatasan pengetahuannya tentang undha-usuk bahasa Jawa yang dianggap rumit.
Berbagai kendala dalam kegiatan pembelajaran UUBJ di atas, harus dicarikan solusinya sehingga kegiatan belajar mengajar utamanya pembelajaran UUBJ akan dapat mencapai sasaran seperti yang diamanatkan dalam kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa. Guru harus memahami kehendak siswanya dalam peningkatan berbagai ketrampilan dalam pembelajaran ini. Sejalan dengan hal itu Nurhadi (2004 : 73) berpendapat bahwa guru dituntut menyesuaikan diri terhadap gaya belajar siswa-siswinya. Salah satu upaya adalah dengan memanfaatkan media audio visual (film) agar siswa lebih antusias dalam mengikuti pelajaran khususnya pembelajaran UUBJ.
Sejarah  penggunaan  alat-alat  audio  visual  dalam  dunia  pendidikan bukanlah  hal  yang  baru,  melainkan  sama  tuanya  dengan  pendidikan  itu sendiri.  Kelebihan  dan  keampuhan  film  sebagai  alat  untuk mendidik  rakyat dapat  dibuktikan  dengan  kata-kata  Hitler  dan  Kepala  Staf  Angkatan Perangnya yang bernama Wilhelm Keitel ketika ada orang yang mananyakan kepada  Hitler  (1939) mengenai  senjata  yang  paling  ampuh  sehingga  Hitler mampu  menakhlukkan  beberapa  negara  dalam  waktu  singkat,  Hitler menjawab:  “Enam puluh  ribu proyektor yang kami miliki”. Pada  tahun 1945 setelah  kalah  perang,  Wilhelm  Keitel  berkata:  “Semua  telah  kami perhitungkan  dengan  sebaik-baiknya,  kecuali  kesanggupan  Amerika  Serikat melatih  rakyatnya  dengan  cepat  untuk  perang.  Kesalahan  kami  yang terutama  adalah  menganggap  enteng  kecepatan  kemahiran  mereka memanfaatkan media film untuk pendidikan”.
Efektifitas  penggunaan  media  film  untuk  mendidik  rakyat  dalam berbagai  segi  kehidupan  tampaknya  juga  sudah  disadari  betul  berbagai kalangan masyarakat. Menjamurnya sinetron  religi  Islam di berbagai stasiun televisi  merupakan  salah  satu  bukti  adanya  inovasi  para  ulama atau da’i  untuk melakukan  syiar  agama. Mereka  sadar  betul  bahwa  karena  berbagai  alasan kesibukan,  masyarakat  masa  kini  sudah  enggan menyempatkan diri datang ke majelis-majelis taklim untuk mendengarkan khotbah. Syiar agama yang dikemas dalam bentuk film yang  “sedikit”  didramatisir  di berbagai stasiun televisi tampaknya lebih mudah menyentuh hati nurani para umat tersebut,  dibanding hanya dengan  sekedar mendengarkan  kata-kata  dalam khotbah.
Tidak jauh berbeda dengan eksistensi budaya lokal, khususnya budaya Jawa.  Lagi-lagi  kaum  muda  dan  kaum  “modernis”  menggangap  bahwa aktivitas  nguri-uri  budaya:  ‘termasuk  menggunakan  bahasa  Jawa yang sesuai dengan unggah-ungguh basa’  dianggap kuno.  Dengan  demikian  wajar  bila  proses  transfer  budaya  Jawa  secara otomatis  perlahan-lahan  terputus  (terjadi  missing  link).  Mereka  tidak  lagi menyadari  bahwa  budaya  Jawa  merupakan  seteguk  ramuan  yang  sangat nikmat  untuk  dihayati  karena  didalamnya  terdapat  berbagai  unsur kebudayaan yang unik, kompleks, dan adiluhung. Akibatnya pergaulan kaum muda di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi “minim” tata krama dan unggah-ungguh. Ini dibuktikan dengan adanya keluhan ± 42 orang guru  bahasa  Jawa SMP di kabupaten Jombang, yang menyiratkan  rasa keprihatinannya  terhadap  penggunaan  UUBJ  bagi para siswa.  Siswa  sudah  jarang  dapat  dengan  fasih  menerapkan  ragam bahasa krama-ngoko dalam berbagai situasi. Fenomena  tersebut  nampaknya  mengundang  polemik  di  kalangan masyarakat
Keberadaan  pembelajaran bahasa  Jawa  sebagai  muatan  lokal  wajib  merupakan  suatu  tantangan. Kondisi siswa  yang  dihadapi  saat  ini  jauh  berbeda  dengan karakteristik siswa 10-15 tahun yang lalu. Siswa sudah banyak terkontaminasi berbagai  pola  kebudayaaan  yang  belum  tentu  sesuai  dengan  kepribadian bangsa sehingga agak sukar untuk menarik kembali ke suasana yang “njawani”. Karakteristik  inilah yang menjadi pijakan guru  untuk  mencari  media  yang  lebih  inovatif, menarik, dan dapat menumbuhkan minat belajar  sehingga mendukung keberhasilan proses belajar mengajar.
Media audio visual (berupa film) diharapkan akan lebih memikat bagi siswa dibandingkan dengan penggunaan  metode  ceramah  di  kelas.  Media  ini  juga  cocok  untuk menyadarkan sasaran (siswa) dan menarik minat siswa untuk lebih menyukai mata pelajaran bahasa Jawa terutama dalam pembelajaran UUBJ. Media audio-visul yang digunakan berupa  film (drama) berbahasa Jawa dalam bentuk VCD dan DVD.
B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas penulis rumuskan masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimanakah penggunaan media film yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang materi UUBJ pada siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno?
  2. Bagaimanakah prestasi belajar siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno dalam pembelajaran yang menggunakan menggunakan media film?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang penulis harapkan dari penelitian ini adalah :
1.          Mendeskripsikan bagaimana penggunaan media film yang dapat meningkatkan minat belajar siswa pada materi UUBJ pada siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno.
2.          Mendeskripsikan prestasi belajar siswa kelas VII.A semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMP Negeri 1 Mojowarno dalam pembelajaran yang menggunakan menggunakan media film.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini akan sangat berharga dan bermanfaat untuk pengelolaan pembelajaran, khususnya untuk guru mata pelajaran Bahasa Jawa dan umumnya untuk segenap unsur penyelenggara sekolah. 
      1.   Bagi guru :
a.       Guru akan memiliki gambaran variasi cara untuk menyajikan pembelajaran khusnya materi UUBJ.
b.      Guru dapat meningkatkan keterampilan melaksanakan inovasi pembelajarn dengan memanfaatkan media film.
c.       Guru dapat mengidentifikasi masalah pembelajaran yang dilakukannya sekaligus mencari solusinya seperti kajian ini.
d.      Guru dapat menyusun program peningkatan efektivitas pembelajaran Bahasa Jawa, khususnya aspek berbicara yang sesuai dengan UUBJ.
      2.   Bagi Siswa
a.       Siswa akan merasa lebih senang dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Jawa.
b.      Siswa akan semakin betah dan mantap dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Jawa.
c.       Meningkatkan prestasi belajar Bahasa Jawa khususnya materi pembelajaran UUBJ.
      3.   Bagi sekolah :
a.       Sekolah akan memiliki sumber daya manusia yang unggul dalam pembelajaran.
b.      Sekolah akan dapat memotivasi guru untuk melakukan pembelajaran yang bisa menyengakan.
c.       Sekolah akan berkembang dan lebih cepat mencapai visi dan misi.
      4.   Bagi dunia pendidikan
a.   Menambah wacana baru dalam proses belajar mengajar dengan memanfaatkan film sebagai media pembelajaran
b.   Sebagai acuan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya.