Advertise

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi.

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi..

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi.

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi.

Free Download PTK

Silahkan Download PTK TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Skripsi PTK untuk Mata Pelajaran PAI, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Matematika, IPA, Fisika, Biologi, Kimia, IPS, Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi..

Jumat, 05 Juli 2013

ALBUM FOTO SMP NEGERI 1 MOJOAGUNG JOMBANG KELAS 9B 2013

ALBUM FOTO SMP NEGERI 1 MOJOAGUNG JOMBANG KELAS 9A 2013

ALBUM FOTO SMP NEGERI 1 MOJOAGUNG JOMBANG KELAS 9H 2013

DATA PESERTA DIDIK BARU 2013/2014

Senin, 01 Juli 2013

METODE EKSPERIMEN

Metode Eksperimen

Karena kemajuan teknologi dan ilmu pengertahuan, maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. Begitu juga dalam cara mengajar guru di kelas digunakan teknik eksperimen. Yang dimaksud adalah salah satu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaulasi oleh guru.
Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mamapu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cra berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Dengan eksperimaen siswa menemukan bukti keberanaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.
Agar penggunaan teknik eksperimen itu efisien dan efektif, perlu pelaksana memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.    Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa.
2.    Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih.
3.    Kemudian dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsetrasi dalam mengamati proses percobaan, maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.
4.    Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih, maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memeproleh pengetahuan, pengalaman serta keterampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu.
5.    Perlu dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah yang mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan sosial dan keyakina manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bisa diadakan percobaan karena alatnya belum ada.
Bila siswa akan melaksanakan suatu eksperimen perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut:
1.    Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen, mereka harus mehami masalah yang akan dibuktikan melalui eksperimen.
2.    Kepada siswa perlu diterangkan pula tentang:
-    Alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan dalma percobaan.
-    Agar tidak mengalami kegagalan siswa perlu mengetahui variable-variabel yang harus dikontrol dengan ketat.
-    Urutan yang akan ditempuh sewaktu eksperimen berlangsung.
-    Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja yang akan dicatat.
-    Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan berupa uraian, perhitungan, grafik dan sebagainya.
3.    Selama eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen.
4.    Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan ke kelas, dan mengavaluasi dengan tes atau sekedar Tanya jawab.
Teknik eksperimen kerap kali digunkan karena memiliki keunggulan ialah:
1.    Dengan eksperimen siswa berlatih menggunanakan metode ilmiah dalam menghadapi segala masalah, sehingga tidak mudah percayha apdda sesuatu yang belum pasti kebenarannya, dan tidak mudah percaya pula kata orang, sebelum ia membuktikan kebenarannya.
2.    Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, hal mana itu sangat dikehendaki oleh kegiatan mengajar belajar yang modern, di mana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru.
3.    Siswa dalam melaksanakan proses sendiri kebenaran sesuatu teori, sehigga akan mengubah sikap mereka yang tahayul, ialah peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal.

Motivasi dan Prestasi Belajar dalam Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing


   
A.    Motivasi Belajar
1.    Pengertian Motivasi
Motiv adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seserang atau organisme yang menyebabkan kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000:28).
Sedangkan menurut Djamarah (2002:114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001:3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan mateti itu dengan lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
2.    Macam-macam Motivasi
Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.     Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar (Usman, 2000:29).
 Sedangkan menurut Djamarah (2002:115), motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994:105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut adalah sebagai berikut:
1)    Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa.
2)    Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok.
3)    Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah.
4)    Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya.
5)    Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.
b.     Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000:29).
Sedangkan menurut Djamarah (2002:117), motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain:
1)    Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
2)    Pace Making (membuat tujuan sementara atu dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa tujuan pembelajaran yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai tujuan tersebut.
3)    Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakuakan sesuatu perbuatan.
4)    Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
5)    Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
6)    Mengadakan penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.
Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.

B.    Prestasi Belajar
Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991:768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapat diartikan bahwa prestasi belajar IPA adalah nilai yang diperoleh siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar IPA.

C.    Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Metode pembelajaran penemuan adalah suatu metode pembelajaran  dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi-informasi yang secara tradisional bisa diberitahukan atau diceramahkan saja (Suryabrata, 1997:1972). Metode pembelajaran ini merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide/gagasan melalui proses menemukan. Fungsi pengajar disini bukan untuk menyelesaikan masalah bagi peserta didiknya, melainkan membuat peserta didik mampu menyelesaikan masalah itu sendiri (Hudojo, 1988, 114). Metode pembelajaran  yang ekstrim seperti ini sangat sulit dilaksanakan karena peserta didik belum sebagai ilmuwan, tetapi mereka masih calon ilmuwan. Peserta didik masih memerlukan bantuan dari pengajar sedikit demi sedikit sebelum menjadi penemu yang murni. Jadi metode pembelajaran yang mungkin dilaksanakan adalah metode pembelajaran penemuan terbimbing dengan demikian kegiatan belajar mengajar melibatkan secara maksimum baik pengajar maupun peserta didik.
Seperti uraian di atas bahwa penemuan terbimbing (Guided Discovery) merupakan salah satu dari jenis metode pembelajaran penemuan. Oleh Howe (dalam Hariyono, 2001:3) menyatakan bahwa penemuan terbimbing tidak hanya sekedar keterampilan tangan karena pengalaman, kegiatan pembelajaran dengan model ini tidak sepenuhnya diserahkan pada siswa, namum guru masih tetap ambil bagian sebagai pembimbing. Penemuan terbimbing merupakan suatu metode pembelajaran yang tidak langsung (Indirect Instuction). Siswa tetap memiliki porsi besar dalam proses penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
Menurut Soedjadi (dalam Purwaningsari, 2001:1) metode pembelajaran penemuan terbimbing adalah metode pembelajaran yang sengaja dirancang dengan menggunakan pendekatan penemuan. Para siswa diajak atau didorong untuk melakukan kegiatan eksperimen, sedemikian sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan sesuatu yang diharapkan.
Dalam pembelajaran penemuan terbimbing tugas guru cenderung menjadi fasilitator. Tugas ini tidaklah mudah, lebih-lebih kalau menghadapi kelas besar atau siswa yang lambat atau sebaliknya amat cerdas. Karena itu sebelum melaksanakan metode pembelajaran dengan penemuan ini guru perlu benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Baik dalam tiap hal pemahaman konsep-konsep yang akan diajarkan maupun memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di kelas sewaktu pembelajaran tersebut berjalan. Dengan kata lain guru perlu mempersiapkan pembelajaran dengan cermat, Soedjadi (dalam Purwaningsari, 2001:18).
Keuntungan dan kelemahan metode pembelajaran penemuan terbimbing.
1.    Keuntungan metode pembelajaran penemuan terbimbing
Menurut Siadari (2001:26) keuntungan dari pembelajaran metode pembelajaran penemuan terbimbing adalah:
a.    Pengetahuan ini dapat bertahan lama, mudah diingat dan mudah diterapkan pada situasi baru.
b.    Meningkatkan penalaran, analisis dan keterampilan siswa memecahkan masalaha tanpa pertolongan orang lain.
c.    Meningkatkan kreatifitas siswa untuk terus belajar dan tidak hanya menerima saja.
d.    Terampil dalam menemukan konsep atau memecahkan masalah.
2.    Kelemahan dalam penemuan konsep atau memecahkan masalah.
Adapun kelemahan metode pembelajaran penemuan terbimbing menurut Ruseffendi (dalam Siadari, 2001:26) adalah sebagai berikut:
a.    Tidak semua materi dapat disajikan dengan mudah, menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing.
b.    Proses pembelajaran memerlukan waktu yang relatif lebih banyak.
c.    Bukan merupakan metode pembelajaran murni, maksudnya tidak dapat berdiri sendiri (hanya dapat digunakan jika ada keterlibatan metode lain misal ekspositori, ceramah, dan lain sebagainya).
Sintak penemuan terbimbing menurut Arends (dalam Haryono, 2001:25), dapat ditabelkan sebagai berikut:
         Tabel 2.1. Sintaks Penemuan Terbimbing Model Arends

No    Fase-fase    Kegiatan Guru      
1    Menyampaikan tujuan, mengelompokkan dan menjelaskan prosedur discovery    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta guru menjelaskan aturan dalam metode pembelajaran  dengan penemuan terbimbing       
2    Guru menyampaikan suatu masalah     Guru mejelaskan masalah secara sederhana      
3    Siswa memperoleh data eksperimen    Guru mengulangi pertanyaan pada siswa tentang masalah dengan mengarahkan siswa untuk mendapat informsi yang membantu proses inquiry dan penemuan      
4    Siswa membuat hipotesis dan penjelasan    Guru membantu siswa dlam membuat prediksi dan mempersiapkan penjelasan masalah      
5    Analisis proses penemuan     Guru membimbing siswa berfikir tentang proses intelektual dn proses penemuan dan menghubungkan dengan pelajaran lain.   

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa guru dalam metode pembelajaran penemuan terbimbing adalah sebagai pembimbing siswa dalam nenemukan konsep.

D.    Hubungan Motivasi dan Prestasi Belajar Terhadap Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertetntu. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik (Nur, 2001:3). Sedangkan prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar.
Sedangkan metode pembelajaran penemuan terbimbing adalah suatu metode pembelajaran yang memberikan kesempatan dan menuntut siswa terlibat secara aktif di dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan memberikan informasi singkat (Siadari, 2001:7). Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan terbimbing akan bertahan lama, mempunyai efek transfer yang lebih baik dan meningkatkan siswa dan kemampuan berfikir secara bebas. Secara umum belajar penemuan terbimbing ini melatih keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain. Selain itu, belajar penemuan membangkitkan keingintahuan siswa, memberi motivasi untuk bekerja sampai menemukan jawaban (Syafi’udin, 2002:19).
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya motivasi dalam pembelajaran metode pembelajaran penemuan terbimbing tersebut maka hasil-hasil belajar akan menjadi optimal. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Dengan motivasi yang tinggi maka intensitas usaha belajar siswa akan tingi pula. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intesitas usaha belajar siswa. Hasil ini akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

DOWNLOAD

MOTIVASI BELAJAR DAN KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN

MOTIVASI BELAJAR DAN KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN
A.     Motivasi dalam Belajar   
Perbuatan seseorang  tidak terjadi dengan sendirinya, selalu ada hal yang mendorongnya dan terfokus pada suatu  tujuan yang ingin dicapainya, baik disadari maupun tidak disadari. Kekuatan yang menjadi daya pendorong kegiatan individu tadi itulah motivasi, sehingga motivasi merupakan salah satu unsur pokok dalam perilaku seseorang. Motivasi merupakan proses psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Motivasi bisa berasal dari diri sendiri maupun dari luar dirinya. Menurut Callahan and Clark (1988) adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah tujuan tertentu. Maslow (1970) mengemukakan motivasi adalah tenaga pendorong dari dalam yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu atau berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan Mc.Clleland (1986) menyatakan bahwa motivasi adalah unsur penentu yang mempengaruhi perilaku yang terdapat dalam setiap individu (Mulyasa 2003:144 dan 145).
Motivasi merupakan daya penggerak seseorang yang terjadi pada saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sempat dirasakan mendesak. Setiap orang dalam rangka memenuhi kebutuhannya biasanya dilakukan selangkah demi selangkah, mulai dari yang terendah sampai pada tingkat tertinggi. Seseorang yang telah mencapai tingkat kebutuhan tertinggi, misalnya kebutuhan untuk berprestasi, tiba-tiba motivasinya hilang secara drastis untuk melakukan sesuatu apabila kebutuhan untuk diakui dan diterima kelompoknya tidak terpenuhi. Penurunan ini tidak terjadi dalam satu tingkat saja melainkan dapat terjadi pada beberapa tingkat sekaligus karena hilang semangat dan mengakibatkan putus asa.
Berbicara masalah tingkat kebutuhan manusia, Maslow (1970) yang dikutip Mulyasa (2003:146) membagi kebutuhan manusia tersebut ke dalam lima kategori yaitu:
a)    Kebutuhan Fisiologis (physiological needs)
Yaitu kebutuhan manusia yang paling rendah tingkatannya dan memerlukan pemenuhan yang paling mendesak, seperti kebutuhan akan makanan, minuman, air, dan udara.
b)    Kebutuhan Rasa Aman (safety needs)
Yaitu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketenteraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya, seperti kebutuhan akan pakaian, tempat tinggal, dan perlindungan atas tindakan yang sewenang-wenang.
c)    Kebutuhan Kasih Sayang (belongingness and love needs)
Yaitu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan efektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlainan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di masyarakat, seperti kebutuhan akan rasa sayang dan disayangi, diterima, dan dibutuhkan oleh orang lain.
d)    Kebutuhan akan Rasa Harga Diri (esteem needs)
Yaitu kebutuhan akan penghormatan atau penghargaan baik dari diri sendiri maupun dari orang lain, seperti hasrat untuk memperoleh kekuatan pribadi dan mendapat penghargaan atas apa-apa  yang dilakukannya.
e)    Kebutuhan akan Aktualisasi Diri (need for self actualization)
Yaitu kebutuhan yang paling tinggi dan akan muncul apabila kebutuhan yang ada di bawahnya sudah terpenuhi dengan baik, seperti seorang pemusik menciptakan komposisi musik atau seorang  ilmuwan menemukan suatu teori yang berguna bagi kehidupan (Mulyasa 2003:146)
Luthan, 1981 (Simdiah Ambarwati, 2001) menyatakan bahwa “Ada tiga unsur yang mempengaruhi motivasi yaitu kebutuhan (needs), dorongan (drive) dan tujuan (goals)”.  Dalam hal ini, seseorang sangat membutuhkan makan, istirahat, tidur, dan sex sebagai kebutuhan dasar/pokok. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, maka muncul pula kebutuhan akan rasa aman (safety). Seseorang memerlukan rasa aman terhadap kepanasan, kedinginan, hujan dan sebagainya. Untuk memenuhi rasa aman tadi maka manusia atau seseorang membutuhkan rumah untuk berlindung.
Tingkat kebutuhan yang ketiga menurut Luthan adalah kebutuhan akan cinta, seperti perlunya beristri atau bersuami, mempunyai anak agar dapat mencintai dan dicintai anak-anaknya, persahabatan, perkumpulan dan sebagainya. Tingkat kebutuhan yang keempat adalah kebutuhan akan penghargaan (esteem). Misalnya kebutuhan untuk dipercaya untuk berceramah di depan umum, diberi jabatan, diberi kewenangan dan diberi tanggung jawab. Akhirnya kebutuhan tingkat tertinggi yaitu kebutuhan akan perwujudan diri (self actualization), artinya seseorang ingin menunjukkan bahwa dirinya memang orang yang penuh potensi.
 Nana Syaodih Sukmadinata (2003) membedakan sifat motivasi menjadi tiga macam sebagai berikut: 1) motivasi takut ( fear motivation) yaitu apabila seseorang melakukan suatu kejahatan karena takut akan ancaman dari kawan-kawannya yang kebetulan suka melakukan kejahatan. Seseorang mungkin juga suka membayar  pajak atau mematuhi peraturan lalu lintas bukan karena menyadari sebagai kewajibannya, tetapi lebih karena takut mendapat hukuman, denda, sanksi, atau pencabutan hak lainnya; 2) motivasi insentif (Insentive motivation) terjadi bila seseorang melakukan suatu perbuatan atau pekerjaan karena ingin mendapatkan sesuatu insentif. Bentuk insentif ini bisa bermacam-macam seperti honorarium, bonus, hadiah, penghargaan, sanjungan, piagam, sertifikat, tanda jasa, kenaikan pangkat, kenaikan gaji, promosi jabatan, kredit poin, penerimaan dari masyarakat dan yang lainnya; dan 3) motivasi sikap atau motivasi diri (attitude motivation atau self motivation) yaitu apabila seseorang melakukan sesuatu lebih karena merasa tertarik, tertantang, dan karena suka atau hobi. Motivasi ini dikenal sebagai motivasi instrinsik yaitu keinginan yang datang dari dirinya sendiri karena adanya rasa senang atau suka serta faktor-faktor lain yang bersifat subyektif.
Motivasi memiliki peranan yang sangat besar dalam proses belajar. Baharuddin (2007) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar adalah motivasi  peserta didik selain intelegensia/kecerdasan, sikap, minat dan bakat peserta didik. Motivasi peserta didik belajar dibedakan menjadi motivasi ekstrinsik dan intrinsik.  Motivasi ekstrinsik meliputi semua faktor yang berasal dari luar peserta didik yang dapat memberikan dorongan dalam belajar. Sebaliknya semua faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik yang dapat mendorongnya untuk belajar disebut faktor intrinsik. Dalam proses belajar motivasi yang memiliki pengaruh lebih efektif adalah motivasi intrinsik karena tidak tergantung pada faktor yang berasal dari luar.
Arden F. Frandsen (Baharuddin, 2007) memerinci motivasi intrinsik dalam proses belajar meliputi: 1) dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas; 2) adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju; 3) adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukunga dari orang-orang penting, misalanya orang tua, saudara, guru, atau teman-teman; dan 4) adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya. Sedangkan motivasi ekstrinsik dalam belajar dapat berupa pujian, peraturan, tata tertip, teladan guru, orang tua dan sebagainya. Kurangnya respon secara positif dari lingkungan akan mempengaruhi motivasi siswa.
Motivasi memiliki beberapa fungsi dalam proses belajar peserta didik, antara lain: 1)mendorong peserta didik untuk mencurahkan energi terbesarnya dalam melakukan suatu kegiatan belajar; 2) memberikan arah dan kegiatan yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai tujuan yang harus dicapai; 3)membimbing peserta didik untuk untuk memilih perbuatan-perbuatan yang sesuai untuk mencapai tujuannya dan menyingkirkan yang tidak bermanfaat dan menghambat pencapaian tujuannya; dan 4) sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi peserta didik (Sardiman, 2007)
Tanda-tanda bahwa peserta didik termotivasi dalam belajar, antara lain: 1) peserta didik mampu selalu memusatkan perhatian pada belajar; 2) peserta didik  menghabiskan waktu cukup untuk belajar; 3) peserta didik belajar secara intensif dan menghabiskan energi yang banyak; 4) peserta didik belajar dengan gembira; 5) peserta didik menggunakan waktu luang untuk belajar; dan 5) peserta didik dapat menyelesaikan tugas dengan benar dan tepat waktu.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk membangkitkan motivasi peserta didik belajar, antara lain: menjadikan tugas menantang, mengurangi penekanan belajar pada tes penilaian, memberi bantuan tapi tidak overaktif, mengubah motivasi ekstrinsik menjadi intrinsik, memberi hadiah, menaruh harapan tinggi pada semua peserta didik, memberitahukan hasil belajar, mempromosikan keberhasilan untuk semua anggota kelas, meningkatkan persepsi peserta didik sebagai control, dan mengubah struktur tujuan penghargaan kelas. Untuk mewujudkan usaha-usaha tersebut dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran koopreratif. 
 Berdasarkan dalil-dalil yang dipaparkan di atas yang dimaksud motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran biologi yang dijadikan variabel independen dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dorongan kuat yang dirasakan peserta didik dalam melaksanakan tugas belajar tanpa keterpaksaan karena merasa ketertarikan, tertantang, dan karena suka terhadap pelajaran biologi.
B.    Keberhasilan Proses Pembelajaran
Baharuddin (2007: 15-16) menyimpulkan bahwa belajar  merupakan perubahan tingkah laku (change behavior) yang bersifat relatife permanen, dapat diamati, dan merupakan hasil latihan atau pengalaman yang memberikan penguatan. Proses belajar dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik seorang anak. Sedangkan faktor psikologis  merupakan kondisi psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Faktor psikologis tersebut terdiri atas: kecerdasan/intelegensi peserta didik, motivasi, minat, sikap, dan bakat. Selain itu proses belajar juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial, lingkungan  budaya, dan lingkungan alam serta sarana prasarana belajar di sekolah.
Sejak bergulirnya kurikulum berbasis kompetensi telah terjadi perubahan paradigma pembelajaran. Peran guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered) menjadi peserta didik sebagai pusat pembelajaran (student centered). Proses yang terjadi di kelas yang semula pengajaran (teaching) menjadi pembelajaran (learning), sehingga peran guru tidak hanya sebagai pengajar (to teach) melainkan lebih sebagai motivator dan fasilitator. Pembelajaran berbasis penguasaan materi menjadi penguasaan kompetensi.
Seorang  guru yang profesional, dia tentu tidak sekedar bertugas mentransfer materi dan mengajarkan hafalan. Tetapi, dalam upaya membangun proses pencerdasan peserta didik, maka guru harus berani bertindak dan mengemukakan ide-ide yang inovatif untuk mampu mendorong tumbuhnya sikap kreatif peserta didik dan senantiasa kreatif untuk menampilkan pikiran-pikiran alternatif. Di samping itu, guru juga dituntut tidak stagnan, melainkan terus secara dinamis mengembangkan diri melalui proses pembelajaran terbuka dan menyenangkan.
Tujuan mengajar adalah untuk mengadakan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku seorang pelajar. Perubahan dilakukan seorang guru dengan menggunakan suatu strategi mengajar untuk mencapai tujuan dengan memilih metode yang tepat (Nur, 2000).
Upaya meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya bergantung pada faktor guru saja, tetapi berbagai faktor lainnya juga berpengaruh untuk menghasilkan keluaran atau out put proses pengajaran yang bermutu. Namun pada hakikatnya guru tetap merupakan unsur kunci utama yang paling menentukan, sebab guru adalah salah satu unsur utama dalam sistem pendidikan yang sangat mempengaruhi pendidikan (Amiruddin, 1989).
Pengajaran adalah susunan informasi dan lingkungan yang memfasilitasi pembelajaran. Lingkungan tidak hanya tempat berlangsungnya pengajaran tetapi juga metode, media dan peralatan yang diperlukan untuk menyampaikan informasi dan membimbing peserta didik belajar. Penyusunan informasi, pilihan strategi pengajaran, menentukan lingkungan pengajaran menjadi tanggung jawab guru. Pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan atau sikap baru pada saat individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. Proses pengajaran-pembelajaran mencakup pemilihan, penyusunan dan cara penyampaian informasi dalam suatu lingkungan yang sesuai dan cara peserta didik berinteraksi dengan informasi itu (Wartono, 2004).
Untuk menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran, maka dilakukan penilaian. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan penilaian yang digunakan adalah penilaian kelas yaitu suatu kegiatan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan (Pedoman Penilaian KTSP, 2006)
Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan masing-masing.
Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai teknik/cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.
Teknik penilaian yang digunakan untuk menentukan prestasi peserta didik dalam penelitian ini menyesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dalam STAD penilaian diawali dengan menentukan nilai dasar dari masing-masing peserta didik. Nilai ini diambil dengan meberikan pre tes pada awal kegiatan pembelajaran. Nilai dasar peserta didik kemudian dibandingkan dengan nilai post tes yang dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran. Kemudian masing-masing peserta didik ditentukan nilai perkembangannya dengan menggunakan aturan sebagaimana tercantum pada Gambar 2.1.
Nilai perkembangan peserta didik dihitung rata-ratanya per kelompok. Hasilnya kemudian digunakan untuk menentukan kriteria keberhasilan untuk tiap-tiap kelompok. Perolehan nilai untuk tiap periode pembelajaran diumumkan pada pertemuan selanjutnya. Untuk kelompok yang telah mencapai nilai perkembangan sempurna diberikan penghargaan berupa sertifikat pengakuan keberhasilan. Nilai yang digunakan untuk menentukan keberhasilan peserta didik adalah nilai rata-rata post tes.


Sumber: Adaptasi dari Slavin, 2007
Gambar 2.1 Prosedur Penyekoran Hasil Belajar STAD
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya.  Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.


Nurkasan. 2008. Peningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Sistem Reproduksi Manusia Peserta Didik ...  DOWNLOAD

INFO PENGUMUMAN PPDB SMP NEGERI 1 MOJOAGUNG JOMBANG TH. 2013/2014